Duel Lagu Slank vs Kuburan Band: Kritik atau Cermin Retaknya Debat Publik?

- Minggu, 04 Januari 2026 | 09:25 WIB
Duel Lagu Slank vs Kuburan Band: Kritik atau Cermin Retaknya Debat Publik?

Tapi, kualitas demokrasi enggak cuma diukur dari ada-tidaknya pertukaran. Tapi juga dari kedalamannya. Apa ini benar-benar debat tentang masa depan Republik? Atau cuma pertikaian persepsi antara “anjing” dan “tuan” yang sama-sama terjebak dalam lingkaran narasi yang itu-itu saja?

Strategi Politik: Mengacaukan Medan Makna

Dari kacamata komunikasi politik, lagu balasan itu menunjukkan strategi yang canggih: Serangan Balik Narasi.

Logikanya gini. Ketika kritik substantif (A) sulit dibantah, jangan bantah A. Ciptakan saja narasi tandingan (B) yang mempersoalkan kredibilitas atau motivasi si pengkritik.

Narasi B (“mereka cuma kecewa enggak dapet proyek”) lalu bersaing dengan Narasi A (“negara ini bermasalah”) di ruang publik. Tujuannya bukan untuk menang argumen, tapi untuk mengacaukan medan makna. Biar publik sibuk mempertanyakan “siapa yang benar” antara dua kubu, alih-alih fokus pada masalah pokok yang dikritik. Ini strategi defleksi. Strategi pengalihan isu yang rapi.

Lalu, Ini Kemenangan atau Kekalahan?

Fenomena ini punya dua muka. Sisi progresifnya: Ini bukti ruang ekspresi masih hidup. Mekanisme koreksi sosial terjadi lewat “pasar ide” di digital, bukan lewat represi. Itu adalah ketahanan budaya demokrasi kita.

Di sisi lain, ada sisi regresif. Ini menunjukkan infantilisasi atau mungkin peremehan diskursus politik. Isu tata kelola negara yang kompleks direduksi jadi duel lagu sindiran yang mengandalkan metafora personal dan serangan karakter. Ruang untuk analisis mendalam, data, dan argumen rasional tergusur oleh emosi dan narasi yang gampang diviralkan. Yang terjadi bukan deliberasi, tapi perang framing di tingkat yang paling dasar.

Jadi, pertarungan “Fufufafa” vs “Tak Diberi Tulang Lagi” adalah cermin demokrasi kita. Sebuah demokrasi yang sedang bertumbuh, tapi sekaligus terdistorsi. Patut disyukuri bahwa untuk hal ini, tidak ada buku yang dibredel atau aktivis yang diteror.

Tapi kita juga harus waspada. “Kreativitas balas-membalas” bisa jadi alat yang sama efektifnya untuk mengebiri kritik substantif.

Ketika debat kebijakan publik berubah jadi pertikaian soal “kesetiaan anjing dan kemurahan tuan,” siapa yang menang? Bukan rakyat yang butuh solusi. Tapi kekuasaan yang berhasil mengalihkan percakapan.

Pada akhirnya, demokrasi butuh lebih dari sekadar kebebasan bersuara. Ia butuh kedewasaan bersuara. Kita mungkin sudah bebas. Tapi apakah kita sudah dewasa? Jawabannya mungkin masih bergema dalam nada-nada keras dari jalanan kota, menunggu untuk tidak sekadar dibalas dengan lagu lain, tapi dengan tindakan nyata yang memperbaiki “republik” yang sedang kita perbincangkan ini. Tabik.


Halaman:

Komentar