BOGOR Indonesia punya kekayaan kain tradisional yang luar biasa. Batik, songket, lurik, sasirangan, dan banyak lagi. Tapi, jujur saja, di tengah kesibukan zaman sekarang, kain-kain adat ini sering dianggap ribet. Kurang praktis buat dipakai sehari-hari. Nah, dari persoalan sederhana inilah Kriti by Lusy muncul, berusaha menjembatani warisan budaya dengan gaya hidup kontemporer.
Lusy Rachmat mendirikan usaha fashion ini di Bogor pada 2017. Koleksinya berfokus pada busana wanita atasan, celana, tunik, dan lain-lain dengan sentuhan utama tenun dan lurik. Menurut Lusy, kedua material ini punya karakter yang timeless. Gampang dipadankan, dan yang penting, bisa diterima oleh berbagai kalangan usia.
“Awalnya ide ini muncul dari obrolan dengan teman-teman,” cerita Lusy.
“Mereka punya kain tenun bagus, tapi bingung mau diapakan. Cuma disimpan di lemari. Dari situ, saya kepikiran untuk mendesain baju yang memadukan tenun dan lurik, jadi lebih fungsional.”
Proses produksi menjadi hal yang sangat diperhatikan Lusy. Ia tak cuma ingin hasilnya berkualitas, tapi juga punya dampak sosial. Untuk itu, ia melibatkan penjahit lokal di sekitarnya dan bekerja langsung dengan pengrajin tenun. Detail bahan dijaga betul. Bahkan, produksi sengaja dibatasi agar setiap potongannya terasa eksklusif. Sekitar 100 sampai 200 potong per bulan itu kapasitasnya saat ini.
Perkembangan bisnisnya makin pesat setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI di tahun 2018. “Itu bantu banget,” aku Lusy. Lewat ekosistem Growpreneur BRI, ia mendapat akses pelatihan dan fasilitas pemasaran. Hal-hal yang dulu rumit, jadi lebih terstruktur. Strategi bisnisnya pun ikut terbentuk.
Dengan dukungan itu, Lusy jadi lebih percaya diri menjangkau pasar lebih luas. Bahkan sampai ke mancanegara. Kriti by Lusy sudah tampil di berbagai pameran di Malaysia, Singapura, Thailand, hingga China. Ini bagian dari upaya menjajaki potensi wastra Indonesia di kancah global.
“Baru-baru ini, kami juga tampil di event Wastra Nusantara di SOGO Central Park Jakarta, November 2025 lalu,” ujarnya antusias.
“Acara seperti ini membuka peluang besar buat brand lokal seperti kami. Bisa dikenal lebih luas, sekaligus meningkatkan kredibilitas.”
Di sisi lain, BRI sendiri melalui Corporate Secretary-nya, Dhanny, menyatakan komitmennya terhadap kemajuan UMKM. Mereka tak hanya memberikan pendampingan, tapi juga berusaha memperkuat posisi pelaku usaha kecil agar bisa naik kelas.
“Kami apresiasi perkembangan industri kreatif, dari fashion batik modern sampai kerajinan tangan,” kata Dhanny.
“Ke depan, BRI akan terus menciptakan peluang lebih besar. Intinya, memperluas akses pasar untuk UMKM di seluruh Indonesia.”
Artikel Terkait
Perindo Sultra Kurban Lima Sapi untuk Warga Kurang Mampu di Kendari
Atta Halilintar Sebar 12 Ekor Sapi Kurban ke Sejumlah Daerah di Jawa Barat
Ria Ricis Buka Suara soal Operasi Hidung: Bukan demi Estetika, tapi karena Gangguan Pernapasan Akibat Tulang Bengkok
MUI: Penggunaan APBN untuk Hewan Kurban Presiden Tidak Melanggar Syariat Islam