Jumat lalu, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman yang cukup mengguncang. Lewat sebuah unggahan di media sosial, ia menyatakan siap "turun tangan" membantu para demonstran di Iran jika aparat keamanan negeri itu menembaki mereka. Ancaman ini muncul di tengah kerusuhan yang telah menewaskan sejumlah orang, dan oleh banyak pengamat disebut sebagai ancaman internal terbesar bagi Teheran dalam beberapa tahun terakhir.
"Kami siap tempur dan siap bergerak," tulis Trump.
Reaksi dari Iran pun datang cepat. Ali Larijani, seorang pejabat tinggi, langsung memperingatkan bahwa campur tangan AS akan dianggap sebagai upaya mendestabilisasi seluruh kawasan Timur Tengah. Peringatan ini bukan tanpa alasan, mengingat pengaruh Iran yang kuat melalui kelompok-kelompok pendukungnya di negara-negara seperti Lebanon, Irak, dan Yaman.
Di lapangan, situasinya memang tegang. Pejabat di wilayah barat Iran sudah lebih dulu bersuara keras, menyatakan bahwa kerusuhan atau pertemuan ilegal akan ditindak tanpa toleransi. Namun begitu, gelombang protes justru menyebar ke berbagai wilayah, disertai bentrokan mematikan antara demonstran dan aparat.
Tak berhenti di peringatan lisan, Iran juga melayangkan protes resmi ke PBB. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, lewat suratnya meminta Dewan Keamanan PBB mengutuk pernyataan Trump.
"Iran akan menggunakan hak-haknya secara tegas dan proporsional. AS memikul tanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul dari ancaman-ancaman ilegal ini dan eskalasi yang mungkin terjadi," tulis Iravani dalam suratnya.
Lalu, apa sebenarnya yang memicu semua ini? Pemicu utamanya adalah lonjakan inflasi yang menyengat. Meski skalanya disebut lebih kecil dibanding gelombang protes sebelumnya, aksi kali ini berhasil meluas. Menurut laporan media negara dan kelompok HAM, sedikitnya sepuluh orang telah tewas sejak Rabu. Di antara korban itu, dua di antaranya disebut sebagai anggota Basij, pasukan paramiliter yang dekat dengan Garda Revolusi.
Memang, kepemimpinan ulama di Iran punya rekam jejak meredam protes selama beberapa dekade, biasanya dengan tangan besi: pengamanan ketat dan penangkapan massal. Tapi kali ini berbeda. Masalah ekonomi yang kian memburuk dianggap membuat posisi pemerintah lebih rentan daripada sebelumnya.
Dukungan Trump: Sekadar Retorika atau Ancaman Nyata?
Menariknya, Trump sama sekali tidak merinci bentuk dukungan seperti apa yang akan ia berikan. Ancaman itu muncul beberapa hari setelah pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang membuat banyak pihak berspekulasi.
Di sisi lain, respons dari dalam negeri Iran justru terkesan lebih lunak. Presiden Iran yang baru, Masoud Pezeshkian, menanggapi dengan nada membuka dialog. Ia berjanji akan berbicara dengan para pemimpin demonstrasi untuk membahas krisis biaya hidup yang mendera rakyat.
Bahkan, Pezeshkian dengan jujur mengakui bahwa kegagalan pemerintah turut menjadi penyebab krisis yang terjadi sekarang. Sebuah pengakuan yang cukup langka di tengah situasi yang memanas.
Artikel Terkait
Kapten Marseille Leonardo Balerdi Cedera Betis, Tinggalkan Pemusatan Latihan Timnas Argentina
Rachel/Febi Gagal ke Final Usai Dikalahkan Unggulan Pertama China di Semifinal Indonesia Open 2026
Timnas Voli Putri Indonesia Kalahkan Iran 3-1 di Laga Perdana AVC Cup 2026
Jonatan Christie Akhirnya Tembus Final Indonesia Open 2026, Hadapi Kejutan Asal Kanada