Jantung Nikel Morowali Berhenti Berdetak, Buruh Tutup Jalan Layang

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:25 WIB
Jantung Nikel Morowali Berhenti Berdetak, Buruh Tutup Jalan Layang

Mari kita simak tuntutan mereka satu per satu. Pertama, pencabutan surat PHK untuk Akmal. Kedua, pengangkatan kembali anggota PUK yang kena PHK. Ketiga, sanksi tegas untuk Supervisor bernama Antona yang diduga bertanggung jawab. Keempat, ini soal perut: pemenuhan kebutuhan kalori untuk karyawan dengan jam kerja 12 jam, minta makan dua kali. Kelima, penerapan K3 yang profesional dan hentikan penggunaan alat kerja di luar standar. Poin ini menyentuh nyawa, mengingat risiko di kompleks industri ini sangat tinggi.

Masih panjang. Keenam, minta transparansi dalam kenaikan jabatan dan pengakuan keterampilan. Ketujuh, masalah kesehatan harus jadi otoritas dokter, hapus sanksi untuk karyawan usai sakit. Kedelapan, penuhi hak saudara Ratno (diduga karyawan security) sesuai anjuran Disnaker. Dan kesembilan, poin payung: penuhi semua hak dan fasilitas, tolak diskriminasi jam kerja, stop union busting, hentikan diskriminasi terhadap karyawan.

Daftar itu seperti konstitusi kecil untuk keadilan di tempat kerja. Mulai dari urusan perut, keselamatan jiwa, keadilan prosedural, hingga prinsip anti-diskriminasi. Aksi di Bahodopi mungkin sudah bubar, tapi gemanya masih bergaung. Ini menantang sebuah paradoks. Di satu sisi, IMIP adalah mesin pertumbuhan ekonomi dan devisa yang dahsyat. Di sisi lain, di dalam jantung mesin itu, ada manusia-manusia yang menuntut agar kemajuan tak dibangun dengan mengorbankan hak dasar mereka.

Senja telah tiba di Morowali. Jetty produksi mungkin besok akan kembali berdenyut. Tapi pertanyaan yang tertinggal jauh lebih berat dari bijih nikel. Apakah jalan dialog benar-benar sudah tertutup, sampai-sampai menutup jalan jadi satu-satunya bahasa yang didengar? Dan apakah harmoni industrial yang didambakan itu bisa terwujud, jika serikat pekerja justru dirasakan terancam?

Jawabannya tak tertulis dalam pernyataan pers mana pun. Ia akan terlihat dari tindakan nyata ke depannya, di antara tumpukan baja dan harapan ratusan buruh yang pulang dengan luka di tubuh dan di hati pada Jumat sore itu.


Halaman:

Komentar