Margi Syarif mendesak, "Pengendalian apa yang dimaksud?"
"Jelas, mereka mengendalikan politik, hukum, ekonomi. Masih mereka kuasai," jawab Budianto tanpa ragu. Dia lalu menyindir kondisi yang timpang. "Kita tahu ada tambang, batubara, nikel, hutan. Tapi stunting tinggi. Gila kan?"
Pertanyaan besarnya, menurut Budianto, apakah pemerintahan sekarang akan berdiam diri dengan keadaan ini.
Justru, dia berterima kasih pada Slank. "Saya malah berterima kasih. Sebagai slanker, lagu ini mengingatkan kita bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja," katanya. Dia mengaku, dulu dia dan banyak orang adalah "penyembah" Jokowi yang sejati. "Sepanjang jalan awalnya baik. Ternyata kita dibohongi. Pada akhirnya sadar juga."
Lantas, berapa banyak orang yang merasakan hal serupa?
"Udah banyak, sebenarnya. Cuma nggak berani ngomang," ucap Budianto singkat.
Nuansa naratif dalam lagu Slank itu memang keras. Liriknya menyoroti negeri kacau balau, stunting, kurang gizi, hingga perilaku yang dianggap tidak sopan. Margi Syarif pun membacakan sebagian syairnya:
Lagu "Republik Fufufafa" jelas bukan sekadar hiburan. Ia adalah sindiran tajam, sebuah cermin yang dihadapkan pada keadaan negeri. Dan lewat lagu ini, Slank seakan mengajak semua orang untuk membuka mata: melihat, lalu bertanya.
Artikel Terkait
Mamdani Cabut Aturan Kontroversial, Israel Tuduh Langkahnya Bensin bagi Antisemitisme
Kepemimpinan Berbasis Maslahat: Pesan Awal Tahun dari Masjid Ibn Khaldun
Racun Kata-kata Daus: Ketika Sindiran Menjadi Lampu Hijau bagi Teror
Menag: Ditjen Pesantren Tinggal Tunggu Keppres