Menurutnya, jalan yang ambles itu adalah urat nadi logistik desa. Semua pengiriman barang dari bawah bukit ke atas bergantung pada akses itu. Sekarang, semuanya mandek.
“Harapannya kalau minta bapak dibenahi lah, dibenahi sebisa mungkin,” harapnya.
Cerita Azri tak berhenti di jalan. Bencana itu, katanya, juga menyapu sejumlah rumah warga. Banyak yang hanyut, terutama rumah-rumah di pinggir Danau Singkarak tempat sungai itu bermuara. Beberapa rumah lain rusak berat dan nyaris ikut ambles.
“Yang lebih dahsyat belah bawah,” jelasnya singkat, menggambarkan betapa daerah hilir menjadi yang paling menderita.
Dari pantauan, kerusakan jalan yang ambles itu membentang cukup panjang, sekitar 200 meter. Sebuah ruas vital yang kini jadi kenangan pahit dari banjir bandang, menunggu untuk dipulihkan sementara kehidupan warga berjalan serba terbatas di sekitarnya.
Artikel Terkait
Dibalik Pujian: Lelah yang Tak Terungkap dari Mahasiswa yang Bekerja
Kuda Andong Jatuh di Malioboro, Pengurus Bantah Tudingan Kelelahan
Gempa 6,5 Magnitudo Guncang Meksiko, Presiden Sheinbaum Batal Konferensi Pers
Misteri Kematian Satu Keluarga di Warakas: Polisi Periksa Enam Saksi