Sudah lebih dari sebulan berlalu, tapi bekas-bekas amukan banjir bandang November lalu masih terpampang nyata di Desa Duo Koto. Jalan-jalan di nagari Gaguak Malalo, Tanah Datar ini, masih dalam kondisi ambles. Parahnya. Ini bukan cuma soal genangan, tapi sebagian badan jalan yang berada di tepi sungai itu benar-benar hilang, lenyap dibawa arus deras yang melanda tiga provinsi di Sumatera kala itu.
Pantauan di lokasi pada Jumat (2/1) memperlihatkan pemandangan yang memprihatinkan. Di sepanjang Jalan Duo Koto, tanah bagian bawah yang seharusnya menopang aspal kini tinggal lapisan bebatuan. Aliran sungai di sampingnya tetap deras, airnya keruh berwarna coklat, seolah mengingatkan betapa ganasnya bencana waktu itu.
Dampaknya langsung terasa. Kendaraan roda empat sama sekali tak bisa melintas. Akses keluar-masuk desa terputus. Para pengendara sepeda motor pun harus ekstra waspada, melintas pelan-pelan di tepi jurang karena tak ada lagi pembatas antara jalan dan sungai yang mengalir di bawahnya. Risiko terperosok selalu mengintai.
Bukan cuma jalan. Jembatan penghubung juga ikut terbawa banjir. Untuk menyiasatinya, warga terpaksa merakit jembatan darurat dari kayu dan batang pohon. Itulah satu-satunya penyeberangan yang mereka miliki sekarang.
Yang membuat warga resah, hingga kini belum terlihat tanda-tanda perbaikan permanen. Azri, salah seorang warga yang ditemui di lokasi, mengeluhkan dampaknya yang sudah merambat ke banyak sisi kehidupan.
“Efeknya pertama ekonomi. Yang kedua, untuk pertanian airnya gak bisa,” ucap Azri.
Artikel Terkait
Risma Blusukan ke Sumbar, Turun Langsung Keruk Lumpur dan Bagikan Bantuan
Tragedi Warakas: Tiga Jenazah Ditemukan dengan Mulut Berbusa dan Ruam Misterius
Bioskop 2026: Miranda Priestly, Moana, dan Doctor Doom Ramaikan Layar Lebar
Hujan Deras Guyur Jakarta, Sepuluh RT Terendam Banjir