Sunyi yang Berbicara: Ketika Ulama Minang Menjinakkan Euforia Tahun Baru

- Jumat, 02 Januari 2026 | 12:00 WIB
Sunyi yang Berbicara: Ketika Ulama Minang Menjinakkan Euforia Tahun Baru

Tahun Baru, Ulama, dan Simulakra

Alen Y. Sinaro
Alumni FISIP Sosiologi Perekonomian & Masalah Sosial, Universitas Terbuka

Prolog

Mari kita mulai dengan satu hal yang jelas: Natal dan Tahun Baru Masehi itu dua hal yang berbeda. Sama sekali. Natal punya akar teologis yang dalam bagi umat Kristen. Sementara Tahun Baru Masehi, ya, cuma penanda waktu di kalender Gregorian yang sekarang dipakai di mana-mana untuk urusan administrasi, bisnis, dan birokrasi global. Masalahnya muncul ketika dua hal ini dicampur-aduk dalam kehidupan sehari-hari, lalu dibungkus dengan kata "tradisi" atau "hiburan semata". Umat Islam pun tanpa sadar terseret dalam euforia simbolik yang sebenarnya tidak pernah benar-benar netral. Ini bukan soal toleransi lagi. Ini proses asimilasi makna yang berjalan pelan, rutin, dan sering tak terasa. Inilah yang bisa kita sebut sebagai natalisasi kultural.

Nah, pengalaman di Sumatera Barat menunjukkan bahwa arus ini sebenarnya bisa dihadang. Tanpa keributan. Ulama di sana tidak melarang penggunaan kalender, tapi mereka memutus rantai euforianya. Mereka tidak memerangi waktu, melainkan berusaha membersihkan maknanya. Caranya? Sosialisasi yang konsisten, dari mimbar Jumat sampai ke grup-grap WhatsApp warga nagari. Masyarakat diajak paham batasannya, bukan sekadar disuruh patuh. Hasilnya nyata. Malam tahun baru jadi sunyi, hiruk-pikuk hilang, dan itu terjadi tanpa perlu penjagaan ketat aparat atau stigma sosial. Fakta ini penting: otoritas ulama masih bekerja. Dan justru karena bekerja di level pemahaman, bukan paksaan, model seperti ini patut jadi contoh tajam, tenang, dan terbukti efektif.

Pergantian tahun sekarang ini sudah kehilangan esensinya sebagai peristiwa waktu. Ia telah berubah jadi simulakrum sebuah tanda yang terus-menerus diproduksi ulang, padahal makna aslinya mungkin sudah lama mati. Tahun Baru Masehi sekarang bukan milik agama tertentu, bukan pula warisan Romawi. Ia jadi milik sistem global: ekonomi, pasar, birokrasi, yang mengatur ritme hidup kita. Ia bekerja seperti kode, diterima begitu saja tanpa perlu keyakinan mendalam.

Saya masih ingat, sore tanggal 31 Desember 2016, sesaat sebelum Tahun Baru 2017, saya baru tiba di Padang. Sepanjang malam itu, dari Padang menuju Lubukalung, Sei Limau, Tiku, hingga ke Lubuk Basung dan pinggiran Danau Maninjau, jalanan dipadati arus manusia dan kendaraan. Ramai sekali. Tapi ini bukan ritual agama. Bukan juga bentuk kesadaran ideologis. Ini murni euforia kolektif, ledakan sosial yang sebenarnya tidak merujuk pada apa-apa. Seperti kata Baudrillard, ini perayaan tanpa referensi nyata: masyarakat merayakan keberadaannya sendiri, sekadar bukti bahwa mereka ada.

Yang menarik, setahun kemudian, di malam Tahun Baru 2018, pemandangan ramai itu lenyap begitu saja. Sunyi senyap. Tidak ada lagi arak-arakan. Tidak ada euforia. Ulama sudah berbicara, fatwa disebar lewat berbagai media, dan masyarakat mematuhi. Fakta ini tidak boleh diremehkan: otoritas ulama masih punya daya. Bukan lewat paksaan negara atau aparat, melainkan melalui kepercayaan simbolik yang masih mengakar. Di zaman di mana hampir semua otoritas dipertanyakan, modal sosial semacam ini sungguh luar biasa.


Halaman:

Komentar