Indonesia Tancapkan Kaki di Rotterdam, Usung Dua Film Pendek dan Lima Film Panjang

- Minggu, 01 Februari 2026 | 09:30 WIB
Indonesia Tancapkan Kaki di Rotterdam, Usung Dua Film Pendek dan Lima Film Panjang

Partisipasi Indonesia di International Film Festival Rotterdam (IFFR) tahun ini cukup menggembirakan. Di ajang bergengsi di Belanda itu, tidak tanggung-tanggung, ada dua film pendek dan lima film panjang yang mewakili negeri ini. Bahkan, satu proyek ikut dalam sesi pitching. Tak cuma itu, perwakilan kita juga terlibat dalam program lab mentor dan producers lab. Ini jelas sebuah pencapaian.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, melihat momen ini sebagai cerminan naiknya kualitas dan daya saing sineas kita. Keragaman cerita yang dibawa juga patut diapresiasi.

"Kita mendorong agar semakin banyak karya sineas Indonesia hadir di panggung global," ujarnya dalam sebuah keterangan tertulis, Minggu (1/2/2026).
"Ke depan, harapan kita besar. IFFR bisa memberikan ruang khusus seperti 'Indonesia Focus' atau 'Indonesia Spotlight'. Itu akan jadi platform strategis untuk memperdalam pemahaman lintas budaya dan tentu saja, menguatkan hubungan Indonesia-Belanda lewat film," tambah Fadli Zon.

Di sisi lain, potensi kerja sama dengan Belanda dinilainya sangat besar. Apalagi, sejak akhir 2024 lalu, kedua negara sudah menandatangani Perjanjian Ko-produksi Audiovisual. Pemerintah Indonesia menyambut baik kerangka kerja ini. Tujuannya jelas: memperluas kolaborasi, mendorong industri budaya, dan memperkuat pertukaran ekonomi kreatif.

Nah, untuk mewujudkan itu, Kemenbud punya sejumlah program. Manajemen Talenta Nasional salah satunya. Platform ini dirancang untuk memberi dukungan komprehensif pada talenta lokal, mulai dari peningkatan kapasitas hingga akses ke jaringan internasional.

Kerja sama nyata sudah berjalan, misalnya lewat SAMASAMA Lab. Inisiatif ini melibatkan Netherlands Film Fund (NFF), Manajemen Talenta Nasional, dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI). Tujuannya mendorong pengembangan film dan pertukaran talenta. Kolaborasi serupa juga terjalin dengan festival seperti JAFF dan Jakarta Film Week.

Dalam kunjungannya, Fadli Zon juga sempat bertemu langsung dengan Direktur IFFR, Vanja Kaludjerčić. Dalam pertemuan itu, dia menyampaikan apresiasi atas peran IFFR sebagai rumah bagi sinema independen. Visi kuratorial festival itu, menurutnya, sejalan dengan semangat film Indonesia kontemporer yang berani mengeksplorasi isu sosial dan keragaman budaya.

"Indonesia kembali menyampaikan minat untuk menghadirkan Indonesian Spotlight di IFFR 2026," jelasnya. Peluang kolaborasi jangka panjang pun dibuka lebar.

Ada satu bidang kerja sama yang menarik perhatian: film sejarah. Rencananya, Indonesia dan Belanda akan memperdalam kolaborasi di area ini. Film sejarah diharapkan bisa jadi alat diplomasi budaya yang kuat. Dengan melibatkan sineas, peneliti, dan arsip dari kedua negara, narasi sejarah yang kritis dan kontekstual bisa lahir. Ini bukan sekadar mengingat masa lalu, tapi membangun pemahaman bersama untuk masa depan.

Pada akhirnya, partisipasi di IFFR ke-55 ini bukan sekadar pamer karya. Lebih dari itu, film Indonesia diharapkan bisa menjadi duta budaya yang efektif. Menyuarakan narasi khas Nusantara sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif. Pemerintah berjanji akan terus mendukung agar sineas kita makin aktif dan kompetitif di kancah dunia. Perjalanan masih panjang, tapi langkah awal di Rotterdam ini memberi sinyal yang cukup positif.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler