Politik juga bukan garis lurus. Terkadang ia adalah pintu yang tiba-tiba terbuka. Terkadang ia adalah momen. Atau gelombang kecil yang tanpa diduga berubah menjadi ombak besar.
Zohran adalah walikota Muslim pertama NYC, sekaligus walikota pertama keturunan Asia Selatan. Acara tertutupnya sengaja intim hanya sekitar 20 orang sebelum pelantikan publik di tangga Balai Kota. Untuk acara publik, Bernie Sanders akan membacakan sumpah seremonial dan Alexandria Ocasio-Cortez akan memberi sambutan.
Artinya, ini bukan cuma pergantian pimpinan. Ini sinyal bahwa sebuah koalisi baru siap memegang kendali di kota terbesar Amerika.
Nanti pasti ada yang bertanya, “Bagaimana cara memimpinnya?” atau “New York itu kejam.” Atau, “Polisi akan melawan.” Lalu, “Anggarannya ruwet.” Semua itu benar.
Tapi saya tak mau pertanyaan-pertanyaan sulit itu mengaburkan keajaiban momen ini.
Bagi Muslim di New York khususnya kelas pekerja yang saya temui di Long Island ini lebih dari sekadar kemenangan politisi. Ini adalah pesan untuk satu generasi: kalian bisa diterima di sini, tanpa perlu meredupkan diri.
Dan bagi yang bukan Muslim, begini: ketika sebuah kota memilih pemimpin yang menempatkan keterjangkauan dan martabat sebagai agenda inti, yang terbantu bukan cuma Muslim. Tapi juga kaum pekerja, keluarga, orang miskin, imigran semua yang menjaga kota ini tetap hidup namun sering dianggap tak punya hak.
Ada satu lapisan lagi yang harus diungkap.
Kisah Zohran adalah tamparan bagi industri propaganda yang menyuruh Muslim untuk hanya diam, bersyukur, dan tak mengganggu. Ia juga teguran untuk para penyebar Islamofobia yang gemar menyamakan “Muslim” dengan “ancaman”. Dan tentu, untuk para sinis yang bersikeras bahwa kekuasaan hanya milik segelintir orang selamanya.
Ini bukan berarti Zohran akan selalu benar. Manusia mana yang sempurna?
Tapi ini berarti, mereka yang selalu disuruh menjauhi sungai, kini justru menjadi arusnya.
Dan iya, saya masih tertawa ingat momen di Long Island itu. Suasana sepi perhatian. Energi “kasihan” yang terpancar. Dan bagaimana timnya hanya berharap dapat beberapa jabat tangan saja hari itu.
Sekarang dia Walikota.
Kalau mau pelajaran praktisnya, ini: jangan jadikan energi satu ruangan sebagai patokan takdir. Orang tak selalu mengenali sejarah, meski ia berdiri tepat di depan hidung mereka.
Jadi saya rayakan momen ini dengan syukur dan sedikit tawa. Serta doa.
Semoga Tuhan melindunginya dari racun kekuasaan.
Semoga New York dijaga dari para pemangsa yang ingin menggagalkan agenda untuk kaum pekerja.
Dan semoga dia diberi keberanian, kerendahan hati, kebijaksanaan serta kemampuan untuk tetap menjadikan orang miskin sebagai pusat setiap keputusannya.
Karena jika itu yang terjadi, ini bukan cuma kemenangan simbolis. Ini akan jadi kemenangan yang nyata.
Artikel Terkait
Siklon Iggy Mengancam, Gelombang 4 Meter Berpotensi Hantam Selatan Jawa
Zohran Mamdani Resmi Pimpin New York, Janjikan Kota untuk Pekerja Bukan Oligarki
Ustadz Terkejut Dengar Bocoran Biaya Sewa Dapur MBG: Bisa Tembus Rp14 Miliar Setahun!
Catatan 62 Kasus Super Flu H3N2 di Indonesia, Tiga Provinsi Jadi Penyumbang Terbesar