ujarnya, menyampaikan pokok pikiran di tengah-tengah warga.
Di dalam, tiap unit ternyata cukup fungsional. Ada satu pintu dan jendela untuk sirkulasi udara. Untuk kebutuhan dasar, sudah tersedia dua tempat tidur, sebuah lemari, kipas angin, plus meja makan. Mereka memikirkan hal-hal kecil juga: di depan tiap rumah disediakan kursi taman buat bersantai, dan pot-pot tanaman menghiasi pintu masuk.
Hal teknis yang vital juga tak terlupakan. Setiap hunian punya meteran listrik mandiri. Dan yang cukup mengesankan, tersedia akses internet wifi gratis dari Telkom Indonesia. Jadi, meski statusnya ‘sementara’, warga di sini tetap bisa terhubung dengan dunia luar.
Tak cuma rumah tinggal. Kompleks ini juga dilengkapi klinik kesehatan dan area bermain untuk anak-anak. Semua dibangun dengan konsep modular, yang memungkinkan pengerjaan cepat tanpa harus asal-asalan.
Dalam kunjungannya, Presiden didampingi sejumlah nama seperti Menlu Sugiono, Mensesneg Prasetyo Hadi, dan Seskab Teddy Indra Wijaya. Kehadiran fasilitas yang terbilang lengkap ini diharapkan bukan cuma memulihkan tempat tinggal, tapi juga membantu penyembuhan psikologis dan ekonomi warga Aceh Tamiang. Pasca bencana, kehidupan harus segera berdenyut lagi. Dan ini adalah langkah awalnya.
Artikel Terkait
Umat di Persimpangan: Agama, Negara, dan Krisis Kepercayaan di Indonesia 2025
Taman Nasional Komodo Ditutup Sementara, Ancaman Siklon Tropis Hayley Gagalkan Rencana Wisatawan
Fajar 2026, Jakarta Sudah Rapi Usai Pesta Global
Gelombang Solidaritas di Jembatan Galata: Istanbul Tolak Diam Atas Gaza