Di Aceh Tamiang, Kamis lalu, Presiden Prabowo Subianto menyempatkan diri meninjau hunian sementara bagi mereka yang terdampak bencana. Suasana di lokasi cukup ramai, penuh dengan harapan. Dalam rapat koordinasi di sana, Prabowo bicara panjang lebar soal apa yang paling mengusik pikirannya belakangan ini.
“Nanti kita perbaiki terus,” ujarnya, menegaskan komitmennya. “Karena kualitas hidup rakyat kita, itu jadi bahan utama pemikiran saya.”
Bagi Prabowo, isu ini bukan sekadar wacana. Dia ingin melihat kehidupan warga Indonesia benar-benar berubah ke arah yang lebih baik. Tak sekadar membaik, tapi melampaui kondisi sebelumnya.
“Jadi kualitas hidupnya harus bagus,” tegasnya. “Lebih baik dari sebelumnya.”
Namun begitu, di sisi lain, ada beban lain yang tak kalah berat. Prabowo menegaskan fokus utamanya saat ini adalah meringankan beban yang dirasakan masyarakat. “Fokus kita adalah bagaimana kita bisa mengurangi, meringankan penderitaan rakyat kita,” tuturnya. Menurutnya, itulah kewajiban mendasar seorang pemimpin.
Persoalannya, tanggung jawab itu amat luas. Di hadapannya ada ratusan juta orang dengan beragam masalah. Tapi, tragedi di Sumatera ini tak boleh diabaikan begitu saja.
“Saya berpikir bagaimana saya atasi ini, membantu saudara di lapangan,” ujar Prabowo, mengakui kompleksitas situasi. Lalu dia menambahkan, “Tetapi sementara nasib 280 juta rakyat Indonesia tetap harus kita urus secara nasional.”
Pernyataan itu seperti menggambarkan dilema yang nyata: memperhatikan korban bencana tanpa melupakan tanggung jawab terhadap seluruh negeri.
Artikel Terkait
Ketua Ombudsman RI Ditahan sebagai Tersangka Kasus Korupsi Nikel
Unhas Tanggapi Laporan Pungli Terhadap Pengusaha Rental Papan Ucapan di Area Kampus
Warga Jemur Gabah di Badan Jalan Bypass Mamminasata, Lalu Lintas Tetap Ramai
Harga Emas Pegadaian Naik, Emas UBS Tembus Rp2,9 Juta per Gram