ManTab dan Susutnya Kelas Menengah: Ketika Tabungan Habis untuk Bertahan Hidup

- Kamis, 01 Januari 2026 | 15:25 WIB
ManTab dan Susutnya Kelas Menengah: Ketika Tabungan Habis untuk Bertahan Hidup

Lihat saja pengeluaran mereka. Untuk makanan dan kebutuhan pokok saja sudah habis 38,5% (Gen-X) dan 41,2% (Milenial). Ditambah lagi dengan biaya rumah, listrik-air, pendidikan, dan kesehatan. Hampir tak ada sisa untuk gaya hidup.

Lain cerita dengan Gen Z (lahir 1997-2012). Meski 44,5% pengeluaran mereka juga untuk makanan dan pokok, mereka masih nyisihin 12,4% untuk "lifestyle & leisure". Inilah yang disebut "micro-luxuries" atau kemewahan mikro. Beli kopi kekinian, jajan makanan hits, atau langganan aplikasi hiburan. Itu bentuk self-reward di tengah tekanan. Mereka mungkin nggak bisa beli mobil, tapi bisa beli kebahagiaan kecil yang instan.

Menjangkau Mayoritas dengan Cara yang Cerdas

Lantas, bagaimana pelaku usaha harus menyikapi realitas baru ini? Laporan BI memberi beberapa pedoman.

Pertama, agama dan spiritualitas tetap jadi standar non-negosiasi buat kebanyakan orang di sini. Kedua, tawaran harus berorientasi nilai, mengingat fenomena ManTab. Ketiga, penawaran perlu disesuaikan buat "generasi sandwich" yang terjepit. Keempat, "kemewahan mikro" adalah pintu masuk untuk merayu Gen Z. Kelima, sentimen "Bangga Buatan Indonesia" itu kekuatan yang bisa dimanfaatkan. Terakhir, fokus ke perkotaan di Jawa tempat 71,5% penduduk pulau itu tinggal bisa jadi langkah awal yang efektif.

"Indonesia, kekuatan konsumen global dengan tantangannya sendiri, membutuhkan merek yang menargetkan populasi dominan dengan pola pikir 'cerdas', fokus pada nilai dan kebutuhan pokok," begitu ringkasan laporannya.

Kata kuncinya memang "cerdas". Konsumen sekarang makin pinter. Mereka bakal nanya, "Apa nilai gunanya?" untuk setiap rupiah yang keluar. Iklan kosong nggak mempan lagi. Mereka butuh solusi nyata, bukan sekadar janji manis.

Di balik optimisme pertumbuhan ekonomi, data-data ini jadi pengingat. Ia menunjukkan kerapuhan yang ada di tengah jumlah penduduk yang besar. Jalan menuju negara berpenghasilan tinggi nggak selalu mulus, bisa saja ada kemunduran.

Pada akhirnya, kisah Indonesia sekarang adalah kisah ketahanan. Bagaimana keluarga-kelas menengah yang menyusut itu berjuang bertahan. Bagaimana anak muda mencari cara baru buat menikmati hidup meski terbatas. Dan bagaimana perekonomian nasional harus beradaptasi bukan cuma mengejar pertumbuhan, tapi juga memperkuat fondasinya.

Data sudah berbicara. Sekarang, giliran kita merespons. Bukan dengan retorika, tapi dengan tawaran nyata yang benar-benar paham jerih payah 282 juta jiwa yang sedang berjuang untuk hari ini, dan berharap untuk esok yang lebih baik.


Halaman:

Komentar