Siang itu, aku dan seorang teman memutuskan pergi ke pantai. Tanpa rencana matang. Tanpa daftar kegiatan. Intinya cuma satu: menghabiskan waktu. Kami hanya ingin duduk di tepi laut, membiarkan hari berlalu dengan caranya sendiri. Temanku itu, biarlah namanya tak disebut. Bukan karena tak penting, tapi karena sore itu sebenarnya bukan tentang identitas kami. Lebih tentang bagaimana kami hadir, bersama-sama.
Begitu tiba, pantai terasa begitu lapang. Seperti memberi ruang untuk bernapas lega setelah sekian lama terengah-engah. Angin laut berhembus membawa bau asin yang khas, menyapu wajah dengan dingin yang lembut. Pasir di bawah kaki masih menyimpan kehangatan sisa terik matahari. Langit cerah, birunya mulai memudar perlahan. Pertanda senja tak lama lagi akan tiba.
Kami berjalan menyusur bibir pantai. Sandal kami lepas, kaki langsung menyentuh pasir basah yang dingin. Ombak kecil datang silih berganti, menjilat kaki lalu mundur lagi. Suaranya berirama, konstan, seperti detak waktu yang tak terburu-buru. Kami diam sejenak memandang laut, lalu saling menatap. Seolah ada kesepakatan tanpa kata yang terjalin di antara kami.
Lalu, kami mulai bermain air.
Awalnya ragu. Dinginnya air bikin tubuh langsung kaget dan menegang. Tapi tak butuh waktu lama, tawa pun meledak. Kami mundur selangkah, lalu maju lagi. Saat ombak kecil datang membasahi kaki hingga mata kaki, kami menantangnya. Melangkah lebih dekat, lalu kabur lagi saat air naik lebih tinggi. Kesenangan sederhana itu nyata adanya. Tertawa lepas tanpa perlu alasan yang rumit.
Tawa kami pecah, bercampur dengan deru ombak dan desir angin. Percikan air membasahi ujung celana. Rambut berantakan ditiup angin. Tapi kami tak peduli. Sore itu terasa terlalu ringan untuk dibebani keseriusan. Laut tampak ramah, seolah ikut bermain dan mengizinkan kami untuk sedikit ceroboh.
Kami memberanikan diri, melangkah sedikit lebih jauh.
Dan itu saatnya ombak yang lebih besar datang.
Tiba-tiba saja. Tanpa peringatan. Air datang dengan kekuatan lebih, menghantam kaki kami dan menyeret pasir dari bawah telapak. Pijakan hilang seketika. Tubuh goyah. Jantungku berdegup kencang, napas tertahan. Rasa takut menyergap takut terseret, takut kehilangan kendali, takut permainan berubah jadi bencana.
Refleks, kami berlari mundur. Kaki nyaris terpeleset. Suara saling panggil kami penuh kepanikan yang masih dicampur tawa gugup. Sampai di pasir yang lebih kering, kami berhenti. Nafas tersengal, dada naik-turun. Jantung masih berdebar-debar.
Kami saling menatap.
Lalu, kami tertawa.
Tawa yang keras, lepas, dan jujur. Karena takut yang berhasil kami lewati. Karena lega. Karena sadar, keberanian kami tadi nyaris jadi kecerobohan. Laut kembali bergulung tenang, seolah tak pernah menguji kami beberapa detik sebelumnya.
Kami tak lagi mendekat. Kali ini, kami memilih duduk di pasir yang lebih tinggi, berdampingan. Pasir terasa dingin menempel di kulit yang masih basah. Angin senja bertiup lebih kencang, bikin tubuh sedikit menggigil, tapi justru terasa enak. Ada rasa aman dalam diam yang kami bagi.
Langit mulai berubah warna. Biru terang memudar, digantikan jingga yang merambat pelan di ufuk. Matahari menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air. Suasana jadi lebih tenang, lebih dalam. Tawa kami mereda, berganti obrolan ringan tentang hari, tentang hal-hal receh yang mungkin besok sudah terlupa.
Di sela obrolan, ada jeda-jeda sunyi. Anehnya, diam itu tak membuat canggung. Justru di saat-saat hening itulah kami benar-benar hadir. Mendengar ombak yang terus berulang, merasakan sentuhan angin, menyaksikan langit berganti warna sedikit demi sedikit. Waktu seperti melambat, memberi kami izin untuk tak terburu-buru.
Aku mengeluarkan ponsel. Kami ambil beberapa foto. Tanpa gaya. Cuma duduk, menatap laut, tersenyum seadanya. Cahaya senja menerpa wajah, membuatnya setengah terang setengah bayangan. Siluet kami tampak samar. Aku tahu, foto-foto ini tak akan pernah bisa menangkap sepenuhnya: dinginnya angin, hangatnya cahaya, atau ketenangan yang meresap pelan ke dalam dada.
Senja kian pekat. Jingga memudar jadi biru kelabu. Angin terasa makin menggigit. Pantai perlahan sepi. Suara laut masih ada, tapi terdengar lebih jauh dan berat. Kami tahu, waktu kami di sana hampir habis.
Kami berdiri perlahan, membersihkan pasir dari pakaian. Tak ada ucapan perpisahan untuk laut, tak ada janji untuk kembali. Kami cuma berjalan menjauh, meninggalkan pantai yang mulai gelap, membawa pulang suatu rasa yang sulit diungkap dengan kata-kata.
Dalam langkah pulang, aku sadar satu hal: sore itu tak memberi kami pelajaran besar. Hidup kami juga tak berubah karenanya. Ia cuma menyadarkan hal sederhana: bahwa menikmati, tanpa menantang berlebihan, tanpa memaksa, adalah bentuk keberanian yang paling tenang.
Kami pulang tanpa membawa laut,
tanpa membawa ombak atau senja,
hanya tawa yang masih hangat di dada,
dan satu sore yang mengajarkan
berani bukan selalu melawan,
kadang cukup tahu kapan berhenti dan menikmati.
Artikel Terkait
Mahfud MD Apresiasi KPK yang Kini Merambah Sektor Pajak dan Bea Cukai
IHSG Turun 0,43%, Analis Soroti Kunci Support di Level 8.170
AKBP Didik Putra Kuncoro Dipecat Tidak Hormat Usai Jadi Tersangka Narkoba
Pemkab Bone Bahas Pembangunan Pelabuhan Senilai Rp1,7 Triliun di Pesisir Timur