Kami tak lagi mendekat. Kali ini, kami memilih duduk di pasir yang lebih tinggi, berdampingan. Pasir terasa dingin menempel di kulit yang masih basah. Angin senja bertiup lebih kencang, bikin tubuh sedikit menggigil, tapi justru terasa enak. Ada rasa aman dalam diam yang kami bagi.
Langit mulai berubah warna. Biru terang memudar, digantikan jingga yang merambat pelan di ufuk. Matahari menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air. Suasana jadi lebih tenang, lebih dalam. Tawa kami mereda, berganti obrolan ringan tentang hari, tentang hal-hal receh yang mungkin besok sudah terlupa.
Di sela obrolan, ada jeda-jeda sunyi. Anehnya, diam itu tak membuat canggung. Justru di saat-saat hening itulah kami benar-benar hadir. Mendengar ombak yang terus berulang, merasakan sentuhan angin, menyaksikan langit berganti warna sedikit demi sedikit. Waktu seperti melambat, memberi kami izin untuk tak terburu-buru.
Aku mengeluarkan ponsel. Kami ambil beberapa foto. Tanpa gaya. Cuma duduk, menatap laut, tersenyum seadanya. Cahaya senja menerpa wajah, membuatnya setengah terang setengah bayangan. Siluet kami tampak samar. Aku tahu, foto-foto ini tak akan pernah bisa menangkap sepenuhnya: dinginnya angin, hangatnya cahaya, atau ketenangan yang meresap pelan ke dalam dada.
Senja kian pekat. Jingga memudar jadi biru kelabu. Angin terasa makin menggigit. Pantai perlahan sepi. Suara laut masih ada, tapi terdengar lebih jauh dan berat. Kami tahu, waktu kami di sana hampir habis.
Kami berdiri perlahan, membersihkan pasir dari pakaian. Tak ada ucapan perpisahan untuk laut, tak ada janji untuk kembali. Kami cuma berjalan menjauh, meninggalkan pantai yang mulai gelap, membawa pulang suatu rasa yang sulit diungkap dengan kata-kata.
Dalam langkah pulang, aku sadar satu hal: sore itu tak memberi kami pelajaran besar. Hidup kami juga tak berubah karenanya. Ia cuma menyadarkan hal sederhana: bahwa menikmati, tanpa menantang berlebihan, tanpa memaksa, adalah bentuk keberanian yang paling tenang.
Kami pulang tanpa membawa laut,
tanpa membawa ombak atau senja,
hanya tawa yang masih hangat di dada,
dan satu sore yang mengajarkan
berani bukan selalu melawan,
kadang cukup tahu kapan berhenti dan menikmati.
Artikel Terkait
Malioboro Tetap Ramai di Siang Hari Pertama 2026, Wali Kota Pantau dengan Boncengan Motor
Mulai 2026, Pelaku Kejahatan Bisa Dihukum Kerja Sosial, Bukan Penjara
Kembang Api di Vila Bali Picu Kebakaran, Kerugian Capai Rp 3 Miliar
Bisik-Bisik 10.000 Bitcoin dan Awan Kelabu The Fed di Ambang 2026