Detik-detik pergantian tahun selalu punya daya tariknya sendiri. Bagi banyak orang, momen itu ditunggu-tunggu. Biasanya, dentuman kembang api yang spektakuler jadi penanda resmi bahwa bab baru telah dimulai. Tapi tahun 2026 ini, ceritanya agak berbeda di beberapa tempat.
Ambil contoh Hong Kong. Di sana, pesta kembang api tahun baru batal total. Alasannya, sebuah tragedi kebakaran apartemen bulan November lalu yang merenggut 161 nyawa masih membekas di hati warga. Sebagai penggantinya, mereka mengadakan pertunjukan cahaya bertema 'Harapan Baru, Awal yang Baru' yang memancar dari gedung-gedung di distrik Central. Suasana hikmat lebih terasa ketimbang gegap gempita.
Sydney punya cerita lain. Meski kembang api tetap menyala sekitar 40.000 efek piroteknik membentang 7 kilometer di atas pelabuhan, lengkap dengan efek air terjun dari Harbour Bridge suasana hati publik agak berat. Penembakan tragis di Pantai Bondi yang menewaskan 15 orang dalam acara Yahudi masih segar dalam ingatan. Makanya, pengamanan diperketat.
Tak lupa, di tengah kemeriahan, ada satu menit hening untuk mengenang korban.
"Setelah akhir tahun yang tragis bagi kota kita, kami berharap Malam Tahun Baru akan memberikan kesempatan untuk berkumpul dan menantikan tahun 2026 yang damai dan bahagia," ujar Wali Kota Sydney, Clover Moore, sebelum acara dimulai.
Lain lagi di Seoul. Ribuan orang memadati paviliun lonceng Bosingak, menanti dentingan lonceng perunggu yang dipukul 33 kali tepat di tengah malam. Bagi mereka, suara itu bukan sekadar tanda waktu. Lebih dari itu, sebuah keyakinan bahwa dentangan itu akan mengusir kesialan dan mengundang kedamaian serta kemakmuran untuk setahun ke depan.
Di China, tepatnya di Jutong Pass, perayaan diwarnai dengan pertunjukan drum yang enerjik. Para penabuh mengenakan penutup kepala khas dan melambaikan papan bertuliskan "2026" serta simbol kuda. Ini bukan tanpa alasan. Februari mendatang menandai awal Tahun Kuda dalam penanggalan mereka.
Di belahan dunia lain, harapan yang disematkan pada tahun baru terasa lebih mendalam dan personal. Bagi banyak warga Ukraina dan Rusia, doa terbesar adalah perdamaian. Konflik yang sudah berlangsung empat tahun jelas menguras segala-galanya.
Seorang wanita di pusat Moskow yang hanya memperkenalkan diri sebagai Larisa menyuarakan hal itu.
"Saya berharap perang berakhir. Saya pikir ini adalah topik utama dan terpenting bagi negara kita," katanya.
Banyak di Ukraina yang pesimis, merasa perdamaian masih seperti ilusi di kejauhan. Tapi di tengah keraguan itu, selalu ada secercah harapan yang polos dan tulus. Seperti yang diungkapkan Olesia, gadis kecil berusia 9 tahun yang berkunjung ke pohon Natal di depan Katedral Saint Sophia di Kiev.
"Saya pikir akan ada perdamaian di tahun baru," katanya penuh keyakinan, dengan pakaian hangatnya.
Begitulah. Dari pertunjukan cahaya pengganti kembang api, heningnya cipta, dentingan lonceng, hingga tabuhan drum dan harapan seorang anak kecil. Tahun Baru 2026 disambut dengan cara yang berbeda-beda, mencerminkan suka duka yang dibawa dari tahun sebelumnya, dan impian untuk hari esok yang lebih baik.
Artikel Terkait
Operasi SAR Dihentikan, Nelayan Hilang di Perairan Makassar Tak Ditemukan
Inter Milan Kalahkan Juventus 3-2 dalam Laga Sengit Penuh Drama di San Siro
Harga Emas Antam Stagnan di Akhir Pekan, 1 Gram Tetap Rp2,95 Juta
HIPMI Run Strong 8 di Makassar Gaungkan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen