Kalimat sederhana itu, menurut Chan, diucapkan tanpa ekspresi. Tanpa sedih, tanpa marah. Seolah itu adalah sebuah fakta kehidupan yang paling biasa. Justru ketiadaan ekspresi itulah yang membuatnya hancur. “Air mata saya langsung mengalir deras,” kenangnya.
Ia lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. Gaza, katanya, adalah tempat di mana anak-anak hidup dalam ketakutan setiap hari. Dibom, ditinggal, dan kehilangan masa kecil. Situasi itu membuatnya merenung tentang arti kebahagiaan yang paling mendasar.
“Jadi, Anda lihat,” tutur Chan, menyimpulkan perasaannya. “Bisa menjadi tua, itu sendiri sudah merupakan sebuah kebahagiaan.”
Pernyataannya itu dengan cepat menyebar di media sosial, disertai cuplikan video singkat yang memperlihatkan Chan berbicara dengan penuh perasaan. Banyak netizen yang terharu dan ikut merasakan kepedihan yang ia sampaikan.
Artikel Terkait
TNI Akhirnya Dapat Uang Lelah Rp 165 Ribu per Hari Saat Bertugas di Daerah Bencana
Video Viral Jule-Yuka di Hotel: Hoaks atau Jebakan Berbahaya?
Lentera Ibu Pertiwi Meredup: UU IKN dan DKJ Dituding sebagai Alat Oligarki dan Kekuatan Asing
Di Balik Sapuan Pagi: Kisah Petugas PPSU yang Bekerja dengan Perut Kosong