Kalimat sederhana itu, menurut Chan, diucapkan tanpa ekspresi. Tanpa sedih, tanpa marah. Seolah itu adalah sebuah fakta kehidupan yang paling biasa. Justru ketiadaan ekspresi itulah yang membuatnya hancur. “Air mata saya langsung mengalir deras,” kenangnya.
Ia lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. Gaza, katanya, adalah tempat di mana anak-anak hidup dalam ketakutan setiap hari. Dibom, ditinggal, dan kehilangan masa kecil. Situasi itu membuatnya merenung tentang arti kebahagiaan yang paling mendasar.
“Jadi, Anda lihat,” tutur Chan, menyimpulkan perasaannya. “Bisa menjadi tua, itu sendiri sudah merupakan sebuah kebahagiaan.”
Pernyataannya itu dengan cepat menyebar di media sosial, disertai cuplikan video singkat yang memperlihatkan Chan berbicara dengan penuh perasaan. Banyak netizen yang terharu dan ikut merasakan kepedihan yang ia sampaikan.
Artikel Terkait
Standing Ovation dari Tifosi Inter untuk Bastoni di Tengah Sorotan Negatif
Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Rampung dalam Tiga Tahun
Kiper Bosnia Curi Catatan Penalti Donnarumma, Picu Kontroversi di Laga Internasional
Mahasiswa Blokade Flyover Makassar, Tuntut Penuntasan Kasus Penyiraman Air Keras