Dari Paris, sebuah peringatan keras dilayangkan. Pengamat politik Muhammad Said Didu, dalam sebuah video yang diunggah Rabu lalu, menyuarakan kegelisahan yang mendalam tentang masa depan Indonesia. Menurutnya, kita sedang menuju kehancuran. Penyebabnya? Kedaulatan negara yang, dalam pandangannya, telah direbut oleh segelintir oligarki.
Lokasi pengambilan videonya sendiri punya makna simbolis yang kuat: Place de la Concorde. Di situlah, berabad silam, Raja Louis XVI dan sang permaisuri dipancung di tengah gejolak Revolusi Prancis. Said Didu menarik garis paralel yang suram. Dia berpendapat Indonesia butuh koreksi fundamental, sebuah pembenahan besar-besaran layaknya revolusi yang mengakhiri "kebiadaban kekuasaan" di masa lalu.
Lalu, apa akar masalahnya? Didu menuding pemerintahan sepuluh tahun terakhir telah menyerahkan lima pilar kedaulatan negara kepada oligarki. Mulai dari wilayah, politik, hukum, sampai ekonomi dan penguasaan sumber daya alam. Kritiknya pedas dan tanpa tedeng aling-aling.
"Tambang-tambang sudah dikuasai asing, laut dikuasai oligarki, semua kehidupan ekonomi dikuasai oligarki. Rakyat hanya ditempatkan sebagai tempat untuk disogok dengan bansos untuk melegalkan kekuasaan,"
Tak berhenti di situ, dia lalu menyasar berbagai kelompok elite. Seruannya jelas: berhentilah jadi alat. Para jenderal diminta kembali ke Sapta Marga, bukan jadi pelindung oligarki. Politisi dikecam karena dianggap menjadikan jabatan sebagai sumber kenikmatan, melupakan rakyat yang diwakilinya.
Penegak hukum pun tak luput. Mereka didesak berhenti menjadi alat untuk menggusur rakyat kecil dan, pada akhirnya, merampok negara. Para kiai dan tokoh agama diserukan untuk tidak "menjual ayat" hanya demi menenangkan penguasa dan konglomerat.
Kalangan cendekiawan dia sindir sebagai "cendekiawan kain pel" yang mudah dimanfaatkan kekuasaan. Sementara guru-guru diingatkan agar pendidikan tidak sekadar jadi lahan bisnis. Intinya, semua elemen bangsa diajak introspeksi.
Di sisi lain, Said Didu juga memberikan pilihan tegas kepada Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Pilihannya dikotomis: bersatu dengan rakyat untuk merebut kembali kedaulatan, atau tetap bersama oligarki dan menghadapi risiko terburuk: bubarnya negara.
Lalu, apa yang harus dilakukan? Dia merinci lima tindakan nyata yang diharapkan: memberantas korupsi, membersihkan pemerintahan, mengambil alih kedaulatan dari oligarki, menghentikan permainan politisi busuk, dan mengembalikan kekayaan negara ke tangan rakyat.
Namun, ada satu pertanyaan besar yang dia lontarkan, sekaligus menjadi peringatan.
"Pertanyaan besarnya, apakah Bapak bisa lepas dari cengkraman Solo, oligarki dan Parco? Jika gagal melepaskan diri, Indonesia akan bubar. Mudah-mudahan tidak bubar di tangan Bapak,"
Di akhir pesannya, Didu mengajak seluruh rakyat Indonesia bersatu. Tujuannya satu: merebut kembali apa yang telah dirampas. Pesan ini, klaimnya, murni untuk keselamatan bangsa. Bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok mana pun.
Artikel Terkait
Polri Tegaskan Tak Ada Kekebalan Hukum, Mantan Kapolres Bima Kota Jadi Tersangka Narkoba
Timnas Indonesia U-17 Dapat Grup Berat di Piala Asia 2026, Hadapi Jepang, China, dan Qatar
Ribuan Kader Ansor Gelar Istigasah Dukung Gus Yaqut di Bandung
Harry Kane Capai 500 Gol Sepanjang Karier Profesional