MURIANETWORK.COM - Kementerian Pertanian mengalokasikan dana sebesar Rp336 miliar untuk mempercepat pemulihan lahan sawah di Sumatera yang rusak akibat bencana. Program ini menargetkan rehabilitasi 9.900 hektare lahan dengan kerusakan ringan hingga sedang, dengan tujuan utama mengembalikan fungsi produksi dan menjaga stabilitas pasokan pangan di daerah terdampak.
Fokus pada Pemulihan Produksi dan Ketahanan Pangan
Anggaran yang cukup signifikan ini menunjukkan prioritas pemerintah dalam menangani kerusakan sektor pertanian pascabencana. Fokusnya adalah pada lahan yang masih memungkinkan untuk segera ditanami kembali, sebagai langkah strategis menjaga roda produksi agar tidak terhenti terlalu lama.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang. "Harapan ke depan segera merehabilitasi lahan sawah dan memperbaiki irigasi pertanian yang rusak agar dapat dimanfaatkan kembali oleh petani," ujarnya.
Dia menambahkan, percepatan rehabilitasi menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga produksi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Tantangan Lapangan: Antisipasi Curah Hujan Tinggi
Pelaksanaan program di lapangan tidak berjalan tanpa hambatan. Tim teknis harus berhadapan dengan kondisi alam yang belum sepenuhnya stabil. Berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan pada periode Januari hingga Maret 2026 masih berpotensi tinggi, sebuah faktor yang terus diwaspadai karena dapat mengganggu pekerjaan konstruksi dan bahkan menimbulkan kerusakan sekunder.
Kondisi ini memaksa adanya penyesuaian strategi di tengah jalan. "Saat ini kita akan melakukan survei ulang di lapangan untuk mengidentifikasi sedimen/ endapan lumpur baru yang ke depan akan mempengaruhi biaya penanganannya seperti pembuangan sedimen di lahan, di saluran irigasi dan lain-lain,” jelas Hermanto.
Rencana Teknis dan Tahapan Pelaksanaan
Rehabilitasi akan mencakup serangkaian pekerjaan fisik yang komprehensif. Mulai dari pembersihan lahan, perataan tanah, pembuatan serta perbaikan saluran irigasi dan drainase, hingga pengolahan lahan siap tanam. Seluruh proses ini dirancang secara bertahap untuk memastikan efektivitasnya.
Program dibagi dalam tiga fase utama: penyusunan rancangan teknis, pelaksanaan konstruksi, dan olah lahan. Saat ini, proses masih berada pada tahap awal perencanaan. "Saat ini ketiga provinsi masih berproses dalam kontraktual penyusunan dokumen rancangan teknis yang dikerjasamakan dengan sejumlah perguruan tinggi, serta sebagian melakukan revisi anggaran untuk menyesuaikan kebutuhan penanganan di lapangan," tutup Hermanto.
Kolaborasi dengan akademisi ini diharapkan dapat memberikan solusi teknis yang tepat guna dan berkelanjutan, sesuai dengan kondisi spesifik setiap lokasi terdampak.
Artikel Terkait
Ganjil-Genap Ditiadakan di Jakarta Akhir Pekan Ini, Imlek Jadi Pertimbangan
Ganjil Genap Ditiadakan di Jakarta Selama Libur Imlek 2026
Menteri Koperasi Dorong Kospin Jasa Percepat Operasional Kopdes Merah Putih
Wagub Banten Dukung Program Religi iNews Cahaya Hati Cahaya Indonesia