Ongen Tantang Kecebong Penuduh SBY: Masuk Saja ke Gorong-gorong Thamrin

- Rabu, 31 Desember 2025 | 16:50 WIB
Ongen Tantang Kecebong Penuduh SBY: Masuk Saja ke Gorong-gorong Thamrin

Ongen: "Kecebong" Penuduh SBY di Balik Isu Ijazah Palsu, Masuk Saja ke Gorong-gorong Thamrin

Tanggapan keras datang dari Ongen. Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI) itu, Dr. Y. Paonganan, tak terima dengan desas-desus yang beredar. Isunya, Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut-sebut punya peran di balik gosip soal ijazah palsu Presiden Joko Widodo. Bagi Ongen, tudingan semacam itu sama sekali tak punya dasar dan cuma bikin ruang politik kita jadi dangkal.

"Para kecebong yang menuduh Pak SBY berada di balik isu ijazah palsu Jokowi itu sebaiknya masuk gorong-gorong di Thamrin saja," ujarnya.

Lelucon sarkastik itu dia lontarkan lewat akun X-nya, @ongen.id, Rabu kemarin. "Siapa tahu di dalam sana ada raja kodok yang menyimpan ijazah aslinya," tambahnya.

Menurut Ongen, narasi yang menyeret nama SBY ke dalam polemik ini jelas sebuah fitnah. Politisi senior itu, dalam pandangannya, sengaja dijadikan target untuk mengalihkan perhatian publik dan memecah-belah. SBY dikenal sebagai negarawan yang selalu menjaga etika, bukan tipe yang main kotor.

"SBY itu mantan presiden dua periode, negarawan, bukan politisi picisan," tegas Ongen. "Menuduh beliau berada di balik isu seperti ini adalah bentuk keputusasaan argumentasi."

Di sisi lain, Ongen merasa isu ijazah yang terus digoreng ini justru menunjukkan kegagalan segelintir pihak menerima kenyataan. Fakta hukum dan politik sudah berjalan, tapi mereka tetap ngotot. Alih-alih fokus pada hal-hal strategis, energi publik malah terkuras untuk narasi sensasional yang nirfaedah.

"Kalau memang ada masalah hukum, tempuh jalur hukum," katanya dengan nada kesal. "Jangan bangun dongeng politik yang justru mempermalukan akal sehat."

Ia pun mengingatkan agar masyarakat tak gampang terprovokasi. Isu liar seperti ini, jika dibiarkan, bisa menggerogoti persatuan. Demokrasi butuh kritik yang rasional dan berbobot, bukan sekadar caci maki atau tuduhan ngawur tanpa bukti.

"Bangsa ini besar kalau diskusinya dewasa," pungkas Ongen. "Bukan saling lempar tuduhan lalu bersembunyi di balik buzzer."

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar