Kalimat itu selalu muncul di akhir. Setiap kali Abu Ubaidah, sang juru bicara Brigade Al-Qassam, muncul di layar untuk membahas Operasi "Banjir Al-Aqsa", ia akan menutup pidatonya dengan kalimat yang sama. Sebuah penegasan. Bukan sekadar kata-kata, tapi intisari dari perjuangan yang mereka jalani.
"Ini adalah jihad untuk meraih kemenangan atau mati syahid."
Atau dalam bahasa Arabnya, yang lebih sering terdengar lantang dari rekaman-rekaman itu:
إنه لجهاد نصر أو استشهاد
Maknanya jelas. Hanya ada dua akhir bagi jalan ini, dan keduanya dianggap mulia. Menang, atau gugur sebagai syahid. Titik. Tidak ada pilihan ketiga yang perlu dibahas.
Nah, video di atas ini dirilis baru-baru ini oleh Al-Qassam. Ini jadi pernyataan pertama mereka setelah kabar duka tentang syahidnya Abu Ubaidah sendiri beredar. Isinya? Justru menguatkan kembali pesan sang juru bicara yang sudah tiada itu.
Lebih dari itu, video tersebut seolah ingin menegaskan sebuah prinsip dalam tubuh Hamas dan sayap militernya. Prinsipnya sederhana tapi berat: para pemimpin harus berada di garis terdepan. Mereka yang mempersembahkan syuhada pertama kali, baru kemudian diikuti oleh para prajuritnya.
Jadi, pesan terakhir Abu Ubaidah itu bukan cuma slogan. Ia seperti warisan, sebuah mantra yang terus bergema, mengingatkan semua pihak tentang hakikat perjuangan yang mereka klaim.
Artikel Terkait
Operasi SAR Dihentikan, Nelayan Hilang di Perairan Makassar Tak Ditemukan
Inter Milan Kalahkan Juventus 3-2 dalam Laga Sengit Penuh Drama di San Siro
Harga Emas Antam Stagnan di Akhir Pekan, 1 Gram Tetap Rp2,95 Juta
HIPMI Run Strong 8 di Makassar Gaungkan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen