Di bagian akhir surat, ia dengan tegas memohon agar pimpinan fakultas segera bertindak. “Saya memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini,” tulisnya. Permohonan yang, sayangnya, mungkin tak sempat ia saksikan jawabannya.
Viralnya surat ini memicu gelombang kemarahan warganet. Desakan agar kampus transparan dan mengusut tuntas kasus ini bergema kuat. Apalagi, kabar yang beredar menyebutkan korban sebelumnya sudah pernah melapor ke dosen pembimbing akademiknya. Sayangnya, laporan itu seolah tak digubris.
“Seharusnya kampus itu jadi rumah aman untuk mahasiswa dan sivitasnya, jangan jadi tempat yang kelam. Jangan biasakan menutupi kasus dengan alasan menjaga nama baik,”
komentar salah satu netizen, mewakili suara banyak orang yang geram. Kini, bola ada di pihak universitas. Masyarakat menunggu langkah nyata, bukan lagi diam atau pengabaian.
Artikel Terkait
PSM Makassar Hadapi Persis Solo dalam Duel Sengit Perebutan Posisi Klasemen
Pemerintah Tegaskan WFH ASN Hanya Langkah Taktis untuk Tekan Konsumsi BBM
Lima Oknum TNI Hadapi Proses Hukum Internal Terkait Pengeroyokan di Kafe Toraja
Harga Emas di Pegadaian Masih Stabil, Galeri24 dan UBS Bertahan di Rp 2,87 Juta per Gram