Surat Misterius Ungkap Pelecehan Sebelum Mahasiswi UNIMA Tewas

- Selasa, 30 Desember 2025 | 20:48 WIB
Surat Misterius Ungkap Pelecehan Sebelum Mahasiswi UNIMA Tewas

TOMOHON – Seorang mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA) ditemukan tewas di kamar kosnya. Lokasinya di Kelurahan Matani Satu, Kota Tomohon. Ia diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Namun begitu, kisah sedih ini ternyata punya sisi lain yang lebih kelam. Kasus yang awalnya biasa ini tiba-tiba viral di media sosial. Penyebabnya, terungkap sebuah surat pernyataan yang diduga kuat ditulis sang korban sebelum ia meninggal. Isinya menggegerkan: ia berniat melaporkan seorang dosen di kampusnya atas tuduhan pelecehan.

Surat itu dialamatkan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi UNIMA, Dr. Aldjon Dapa, M.Pd. Di dalamnya, korban yang masih berstatus mahasiswi semester akhir menguraikan kronologi kejadian yang ia alami. Pelaku yang dilaporkan berinisial DM, seorang dosen di fakultas yang sama.

“Kejadian tersebut masih dalam lingkup kampus FIPP. Dampak yang saya rasakan adalah trauma dan ketakutan. Setiap bertemu DM, saya merasa malu jika ada mahasiswa yang melihat saya naik atau turun dari mobilnya karena bisa menjadi bahan pembicaraan. Saya merasa tertekan dengan masalah ini,”

begitu penggalan isi suratnya. Sungguh ironis, tempat yang seharusnya aman justru menjadi sumber luka mendalam baginya.

Di bagian akhir surat, ia dengan tegas memohon agar pimpinan fakultas segera bertindak. “Saya memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini,” tulisnya. Permohonan yang, sayangnya, mungkin tak sempat ia saksikan jawabannya.

Viralnya surat ini memicu gelombang kemarahan warganet. Desakan agar kampus transparan dan mengusut tuntas kasus ini bergema kuat. Apalagi, kabar yang beredar menyebutkan korban sebelumnya sudah pernah melapor ke dosen pembimbing akademiknya. Sayangnya, laporan itu seolah tak digubris.

“Seharusnya kampus itu jadi rumah aman untuk mahasiswa dan sivitasnya, jangan jadi tempat yang kelam. Jangan biasakan menutupi kasus dengan alasan menjaga nama baik,”

komentar salah satu netizen, mewakili suara banyak orang yang geram. Kini, bola ada di pihak universitas. Masyarakat menunggu langkah nyata, bukan lagi diam atau pengabaian.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar