Harga daging di Aceh sedang melambung tinggi. Gubernur Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem, mengungkapkan angka yang bikin geleng-geleng: bisa tembus Rp 300 ribu per kilogram. Bandingkan dengan hari biasa yang sudah di angka Rp 200 ribu. Situasinya memang tidak biasa.
Menurut Mualem, penyebab utamanya adalah bencana yang menewaskan banyak ternak. "Karena banyak ternak yang (jadi) korban," ujarnya. Pernyataan ini dia sampaikan dalam sebuah rapat koordinasi penanganan pascabencana di Aceh, Selasa lalu.
"Jadi daging yang termahal di seluruh Indonesia di Aceh, Pak, hari-hari biasa sampai 200 ribu per kilo Pak, mungkin dalam keadaan ini sampai Rp 300 (ribu) Pak."
Rapat itu sendiri dihadiri sejumlah pejabat penting. Dari DPR ada Wakil Ketua Sufmi Dasco Ahmad beserta rekan-rekannya. Sementara dari pemerintah pusat, hadir sejumlah menteri seperti Mendagri Tito Karnavian, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, serta beberapa menteri teknis lainnya.
Di tengah forum yang penuh dengan pembahasan rehabilitasi itu, Mualem tak sungkan menyampaikan permintaan langsung. Dia memohon bantuan daging atau sapi utuh dari pemerintah pusat. Alasannya kuat, selain untuk meringankan beban warga, juga karena Ramadan sudah di depan mata.
Bagi masyarakat Aceh, kata dia, merayakan Ramadan tanpa kehadiran daging terasa kurang afdal. Makanya, bantuan itu sangat dibutuhkan.
"Jadi kepada Pak Mendagri dan Pak Purbaya mohon dagingnya Pak atau sapi utuh Pak untuk kita apakah jual atau kasih kepada masyarakat yang terdampak supaya dapat menikmati dagingnya Pak."
Mualem bahkan punya ide. Dia menyarankan untuk mengimpor dari negara-negara dengan harga lebih murah, seperti Australia atau India. "Karena banyak ternak yang korban di tempat saya di kampung saya Pak, dia agennya sapi, sampai 300 ekor musnah Pak, terdampak banjir," sambungnya, menggambarkan betapa parahnya dampak bencana bagi peternak lokal.
Persoalan lain yang juga dia soroti adalah nasib para nelayan. Pascabencana, aktivitas melaut jadi sangat sulit. Muara-muara sungai mengalami pendangkalan serius, menghalangi perahu untuk keluar-masuk dengan lancar.
"Sekarang, kuala-kuala, mereka yang berpencaharian ke laut, keluar tunggu air pasang Pak, masuk tunggu air pasang," keluhnya. Padahal, sekitar seperempat penduduk Aceh menggantungkan hidupnya dari laut. Normalisasi muara sungai, oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan agar roda perekonomian nelayan bisa berputar kembali seperti sedia kala.
Artikel Terkait
Mantan Kapolres Bima Kota Tersangka Narkoba Belum Ditahan, Tunggu Proses Propam
Bali United Tumbang Lagi, Kekalahan Ketiga Beruntun Usai Ditaklukkan Persija
Eks Kapolres Bima Kota Tersangka Narkoba Belum Ditahan, Tunggu Sidang Kode Etik
IHSG Terkoreksi, Analis Masih Lihat Peluang Rally ke Level 8.440