Duka 2025: Longsor Tambang dan Runtuhnya Musala, Alarm Kelalaian yang Mematikan

- Selasa, 30 Desember 2025 | 05:35 WIB
Duka 2025: Longsor Tambang dan Runtuhnya Musala, Alarm Kelalaian yang Mematikan

JAKARTA – Tahun 2025 benar-benar menghantam. Indonesia berduka. Dalam rentang beberapa bulan, dua tragedi besar mengguncang negeri ini: longsor dahsyat di area tambang Gunung Kuda, Cirebon, dan musala yang runtuh di sebuah pesantren di Sidoarjo. Bukan cuma angka statistik, kedua peristiwa ini adalah bukti nyata betapa rapuhnya sistem pengawasan keselamatan kita. Puluhan nyawa melayang, meninggalkan duka dan pertanyaan yang tak mudah dijawab.

Kaleidoskop tahun ini menegaskan satu hal: bencana seringkali bukan semata soal alam, tapi juga buah dari kelalaian manusia.

Mari kita mulai dari Cirebon. Jumat pagi, 30 Mei 2025, tebing di tambang galian C Gunung Kuda tiba-tiba ambrol. Reruntuhan tanah dan batu menimbun para pekerja yang sedang beraktivitas. Suasana berubah jadi chaos. Menurut data terakhir BNPB, korban tewas mencapai 21 orang.

Pencarian korban oleh tim SAR gabungan berlangsung alot. Medannya sulit, tebingnya labil. Bahkan operasi sempat dihentikan sementara karena pergerakan tanah dinilai terlalu berbahaya. Ini bukan bencana biasa; ini tragedi yang sebenarnya bisa dicegah.

Konsekuensinya pun berjalan. Polisi akhirnya menetapkan dua orang sebagai tersangka, diduga karena kelalaian dalam pengelolaan tambang. Abdul Karim dan Ade Rahman namanya. Pemerintah daerah dan Kementerian ESDM kini kebakaran jenggot, mengevaluasi izin-izin tambang dan berjanji membuat langkah mitigasi. Tapi bagi keluarga korban, semua itu sudah terlambat.

Di sisi lain, ada duka yang mungkin lebih dalam lagi, terjadi di lingkungan pendidikan. Senin, 29 September 2025, musala Pondok Pesantren Al-Khoziniy di Sidoarjo ambruk saat sedang dipakai. Bayangkan saja, para santri sedang beribadah dengan tenang, lalu langit-langit mereka runtuh.

Kepanikan luar biasa terjadi. Operasi pencarian dan evakuasi berlangsung hampir sembilan hari penuh. Angkanya mencengangkan: 67 orang dinyatakan tewas, sementara 104 santri berhasil diselamatkan. BNPB menyebut ini sebagai salah satu bencana kegagalan teknologi dengan korban terbesar sepanjang tahun.

Proses identifikasi jenazah dilakukan Tim DVI Polda Jatim. Hingga kini, 50 jenazah sudah bisa dikembalikan kepada keluarganya. Yang tersisa adalah duka dan trauma mendalam. Pendampingan psikososial terus dilakukan, tapi luka di hati tentu butuh waktu lebih lama untuk sembuh.

Penyebab pasti ambruknya bangunan masih diselidiki. Apakah dari struktur, material, atau faktor lain. Yang jelas, peristiwa ini memaksa semua pihak membuka mata. Pemerintah pusat dan daerah berjanji memberikan dukungan penuh, sekaligus mengevaluasi standar keamanan bangunan pesantren di seluruh Indonesia. Komitmen itu harus dibuktikan, tidak boleh sekadar wacana.

Dua tragedi ini, Gunung Kuda dan Al-Khoziniy, adalah catatan kelam di tahun 2025. Keduanya menelan korban jiwa dalam jumlah yang tak sedikit, menyisakan trauma kolektif, dan yang terpenting, memaksa kita semua untuk introspeksi. Soal keselamatan kerja, soal keamanan bangunan, dan soal harga sebuah nyawa manusia. Jangan sampai kita hanya pandai berduka, tapi lupa untuk memperbaiki.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar