Empat Pilar Astra Pacu Desa Bangkit, Capai Rp411 Miliar dari Ekspor

- Senin, 29 Desember 2025 | 20:06 WIB
Empat Pilar Astra Pacu Desa Bangkit, Capai Rp411 Miliar dari Ekspor

Tahun 2025, Astra memusatkan kerja sosialnya di desa-desa. Fokusnya jelas: membangun dari akar rumput. Semua program mereka berjalan mengacu pada empat pilar utama kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Rancangannya memang dibuat untuk memberi manfaat langsung. Tapi yang tak kalah penting, dampaknya diharapkan bisa bertahan lama, mengakar kuat di masyarakat pedesaan di berbagai penjuru Indonesia.

Nah, keempat pilar itu kemudian dirajut dalam program-program unggulan berbasis komunitas. Dua yang jadi andalan adalah SATU Indonesia Awards serta program pengembangan kampung dan desa lewat Kampung Berseri Astra dan Desa Sejahtera Astra.

Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menekankan pentingnya pendekatan yang tak sekadar datang lalu pergi.

"Melalui pendampingan yang konsisten dan kolaboratif, Astra berupaya menciptakan program unggulan berbasis komunitas desa. Harapannya, program ini tak cuma menjawab kebutuhan hari ini, tapi juga mempersiapkan masyarakat hadapi tantangan masa depan," ujar Djony.

Ia menambahkan, "Ketika komunitas punya kapasitas, inovasi, dan kesempatan untuk tumbuh lewat penguatan potensi desa, dampak sosial yang tercipta akan lebih berkelanjutan. Ini kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa, untuk hari ini dan esok."

Hingga akhir 2025, catatannya cukup menggembirakan. SATU Indonesia Awards telah diberikan kepada 79 penerima apresiasi tingkat nasional dan 713 penerima di tingkat provinsi. Ini bentuk dukungan nyata Astra bagi anak-anak muda penggerak perubahan di komunitasnya masing-masing.

Dampak yang Tak Berhenti di Piala

Semangatnya sejalan: memperkuat ekosistem pemberdayaan. Peran para penerima apresiasi SATU Indonesia Awards itu tak berakhir di seremoni. Mereka justru diintegrasikan ke dalam program Kampung dan Desa Binaan Astra, menjadi motor penggerak di lapangan.

Ambil contoh Desa Sejahtera Astra yang diluncurkan sejak 2018. Program ini melibatkan banyak pihak: pemerintah pusat dan daerah, kampus, komunitas, startup, hingga Kelompok Usaha Desa (KUD). Fokusnya pada pengembangan produk unggulan desa, yang dikelompokkan dalam tiga klaster: pertanian dan olahannya, kelautan dan perikanan, serta wisata, kriya, dan budaya.

Hasilnya? Djony membeberkan data yang cukup solid.

"Lewat integrasi penguatan kapasitas komunitas dan dukungan pada penggerak perubahan di desa, hingga akhir 2025, Desa Sejahtera Astra telah menjangkau lebih dari 210 ribu penerima manfaat. Kami mendampingi lebih dari 1.515 kampung dan desa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan aktivitas ekspor yang mencapai Rp411 miliar," jelasnya.

Di pilar kesehatan, upaya Astra berfokus pada ibu, anak, remaja, dan masyarakat sekitar. Di Desa Sejahtera Astra Rammang-Rammang, Sulsel, misalnya, pendekatan kesehatan berjalan beriringan dengan pengembangan desa wisata. Edukasi hidup bersih dan sehat diberikan kepada warga.

"Kami juga beri edukasi soal peningkatan sanitasi lingkungan, plus pengelolaan kebersihan kawasan wisata. Tujuannya satu: menciptakan lingkungan yang sehat dan aman buat masyarakat dan pengunjung," kata Djony.

Sementara di bidang pendidikan, komitmennya pada peningkatan kualitas SDM. Di Desa Sejahtera Astra Bumiaji, Kota Batu, sebuah ruang belajar komunitas dikembangkan jadi pusat literasi. Penggeraknya adalah Anjani Sekar Arum, Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2017 Bidang Kewirausahaan.

"Program ini mendorong pemberdayaan berbasis komunitas. Agar masyarakat desa bisa mandiri, berinovasi, dan punya daya saing yang berkelanjutan," ungkap Djony.

Ada juga penguatan lewat literasi digital. Seperti yang dilakukan Reza Permadi, Penerima Apresiasi tahun 2023 Bidang Teknologi. Pendekatan pendidikan berbasis digitalnya di Desa Sejahtera Astra Bugisang, Klaten, berhasil meningkatkan pendapatan desa sekitar Rp50–60 juta per tahun. Caranya lewat perluasan pasar dan pengembangan paket wisata edukasi.

Di pilar lingkungan, pemulihan ekosistem dan praktik berkelanjutan digaungkan. Ritno Kurniawan, penerima apresiasi tahun 2017 Bidang Lingkungan yang juga Tokoh Penggerak di Desa Sejahtera Astra Padang Pariaman, Sumbar, jadi contoh bagus.

Programnya mendorong transformasi mata pencaharian warga. Dari pembalakan liar beralih ke ekowisata berkelanjutan di Ekowisata Nyarai. Sekitar 170 warga 80 persennya mantan pembalak kini beralih profesi jadi pemandu wisata. Pelestarian hutan akhirnya seiring dengan peningkatan kesejahteraan.

Lalu, pilar kewirausahaan. Di sini, Astra mendorong penguatan ekonomi lokal berbasis potensi unggulan desa. Akhmad Sobirin, Penerima Apresiasi 2016 Bidang Kewirausahaan dan Tokoh Penggerak di Desa Sejahtera Astra Semedo, Banyumas, berhasil meningkatkan nilai tambah produk gula semut berbasis komunitas.

Djony memaparkan, "Kelompok tani yang awalnya cuma 25 orang, berkembang jadi lebih dari 1.500 petani. Nilai jualnya melonjak dari Rp2.000–5.000 per kg, menjadi produk berkualitas ekspor dengan harga hingga Rp15.000 per kg."

Kisah sukses serupa bertebaran. Desa Sejahtera Astra Purworejo, Jateng, mengekspor produk Coffee Wood dan Coconut Rope Dog Chew ke Eropa dan AS dengan nilai Rp43,52 miliar. Pendapatan masyarakatnya naik sampai 70 persen.

Di Pandeglang, Banten, terjadi pelepasan ekspor perdana 5.000 ekor ikan mas sinyonya ke Vietnam. Sementara di Bajawa, NTT, 15 ton kopi berhasil dikirim ke Thailand dengan nilai lebih dari Rp1,65 miliar, melibatkan lebih dari 200 petani.

Capaian-capaian di berbagai wilayah itu membuktikan satu hal: pemberdayaan yang dilakukan secara konsisten, kolaboratif, dan sesuai kebutuhan lokal, benar-benar mampu menghadirkan perubahan nyata.

"Dengan mengintegrasikan keempat pilar tadi, Astra terus membangun fondasi pembangunan komunitas. Orientasinya bukan cuma pada hasil, tapi lebih pada keberlanjutan dampaknya. Untuk generasi sekarang, dan yang akan datang," pungkas Djony menutup pembicaraan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar