Fakta di lapangan, banyak dari mereka belum lancar berbahasa Indonesia. Masih dalam proses belajar, dibina oleh para dai yang ditugaskan di sana.
Namun begitu, syahadat massal ini bukan akhir cerita. Justru awal. Rangkaian kegiatan pendampingan langsung digulirkan. Ada khitanan massal, peresmian masjid, layanan kesehatan gratis, sampai makan bersama sebagai wujud syukur dan pererat ukhuwah.
Ini bukan kali pertama Dewan Dakwah Morowali Utara dan LAZNAS-nya menggelar acara serupa. Tahun 2020 lalu, sekitar 300 orang dari suku yang sama juga bersyahadat di Masjid Al Furqon, Desa Tanasumpu.
Dukungan pun mengalir. Dari tokoh nasional seperti Ustadz Abdul Somad, misalnya. Koh Dondy Tan sendiri hadir langsung, menyaksikan dan membersamai detik-detik bersejarah itu.
Agendanya jelas tak berhenti di sini. Gunung Tua, yang masih dalam tahap pembangunan, akan terus dikembangkan. Rencana pendirian masjid dan sekolah sudah disiapkan untuk menghidupkan kampung baru tersebut.
Jumat terakhir di tahun 2025 itu benar-benar jadi penanda. Awal dari kehidupan baru. Semua ini buah dari kerja dakwah panjang, yang ternyata sudah dirintis sejak 2004 silam. Ustaz Sigit bercerita, sejak awal ia berdakwah di Morut, sudah ada kelompok-kelompok Tau Taa Wana yang datang dengan keinginan untuk memeluk Islam.
Kini, ratusan mualaf itu akan menetap. Mereka akan dibina secara berkelanjutan di kampung-kampung binaan. Sebut saja Lambentana, Ngoyo, dan Uwemalingku. Ketiga kampung mualaf itu hingga hari ini masih terus mendapat pendampingan dari para dai pedalaman. Perjalanan mereka baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Selebrasi Ole Romeny Viral, Jadi Inspirasi dan Sorotan Publik
Pemuda Pencuri Kabel Tersengat 20.000 Volt di Gardu Listrik Jambi
KNVB Nyatakan Dokumen Maarten Paes Sah, Polemik Paspoortgate Berakhir
Bhayangkara Presisi Hancurkan Samator 3-0 di Final Four Proliga