Ketua Baru Parmusi Tegaskan: Bukan Corong Partai, Tapi Rumah Besar Umat

- Senin, 29 Desember 2025 | 13:50 WIB
Ketua Baru Parmusi Tegaskan: Bukan Corong Partai, Tapi Rumah Besar Umat

Ali Amran Tanjung, sosok yang baru saja terpilih sebagai Ketua Umum Parmusi, langsung menegaskan posisi organisasinya. Bukan jadi corong partai tertentu, tegasnya. Parmusi harus jadi rumah besar, tempat berkumpulnya umat Islam Indonesia dari berbagai partai dan mazhab.

Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah wawancara di kanal YouTube TV Masyumi, yang diunggah pada Ahad lalu.

"Mari kita jadikan Parmusi ini supaya betul-betul bermanfaat untuk umat, untuk rakyat Indonesia, untuk bangsa dan negara kita. Jadi tidak fokus kepada hanya satu partai, tapi justru jadi rumah besarnya partai-partai Islam,"

Terpilih dalam Muktamar V di Pesantren Azikra, Sentul, akhir Desember lalu, Amran punya agenda jelas. Ia mengajak aktivis dari pelbagai partai sebut saja PBB, Partai Masyumi, Partai Umat, hingga PKS untuk bergabung. Menurutnya, Parmusi harus inklusif.

Lalu bagaimana sikap organisasi ini terhadap pemerintahan Prabowo Subianto? Dalam percakapan dengan Legisan Samtafsir, Amran menjelaskan. Posisinya bukan untuk berseberangan, melainkan jadi mitra yang konstruktif. Mitra yang tak segan memberi masukan.

"Kita dukung pemerintah. Tapi jika ada kebijakan-kebijakan yang kurang tepat, tentu akan berani pada kesempatan pertama mengkritisi dalam rangka memberikan masukan-masukan. Bukan mengkritisi, bukan memarahi, tapi memberikan solusi-solusi terbaik,"

Ia meyakini Presiden Prabowo punya niat baik untuk rakyat. Hanya saja, niat baik saja tak cukup. Kebijakan yang berdampak buruk bisa saja muncul, dan di situlah Parmusi ingin ambil peran.

Untuk mewujudkan itu, ada terobosan dalam struktur kepengurusan. Dulu, hierarkinya langsung dari ketua umum ke bawah. Kini, dibentuk sejumlah wakil ketua umum yang menangani bidang spesifik: politik, dakwah, ekonomi, sosial, dan pendidikan. Ini langkah untuk mendorong profesionalisme.

"Kita ingin Parmusi dihadirkan yang betul-betul bermanfaat pada banyak aspek. Orang-orang yang profesional dalam bidang-bidangnya kita butuhkan untuk segera hadir di Parmusi,"

Dan komposisi pengurusnya pun beragam. Ada yang dari partai politik, birokrat, ulama, sampai pengusaha dan pemikir. Semua diajak.

Di sisi lain, Amran tak mau memutus kontinuitas. Program lama seperti Desa Madani dan pelatihan dai-daiyah akan dilanjutkan. Fokusnya pada kesejahteraan para dai dan pembinaan spiritual di tingkat akar rumput.

"Kita membutuhkan banyak anak-anak muda yang konsen pada pikiran-pikiran keislaman, keindonesiaan, kebangsaan untuk bergabung di Parmusi, kita latih menjadi dai-daiyah dan akan kita kirim ke desa-desa seluruh Indonesia,"

Jaringan Parmusi yang hingga ke desa, kata Amran, punya fungsi strategis lain: merekam implementasi kebijakan pemerintah di lapangan. Sebagai semacam 'sensor' untuk memastikan program presiden benar-benar jalan, tidak mandek di birokrasi.

"Parmusi akan menjadi tangan, kaki, mata, pikiran, dan perasaan dari pimpinan negara ini supaya negara makin hari makin baik. Jangan ada hal yang tidak kita suka dengan negara ini, kita habiskan waktu hanya membicarakannya di kedai kopi,"

Satu hal yang ditekankan Amran: meski berbasis Islam, Parmusi hadir untuk semua rakyat Indonesia. Tanpa pandang agama, suku, atau daerah.

"Kalau rakyat Indonesia disakiti di daerah, katakan nonmuslim, Parmusi tetap hadir. Karena ini adalah bagian dari seluruh rakyat Indonesia secara umum dan tentu bagian dari Islam secara khusus,"

Di akhir wawancara, ia mengingatkan pentingnya stabilitas. Masyarakat diajak untuk tak gampang terprovokasi hoaks yang merusak.

Kepemimpinan Ali Amran di Parmusi akan berjalan untuk periode 2025-2030. Ia menggantikan kepemimpinan almarhum Usama Hisyam, yang sempat diteruskan sementara oleh Prof. Bachtiar Effendy. Perjalanan panjang menanti.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar