Patung Harimau Putih Kediri: Ketika Karya Aneh Justru Menciptakan Destinasi

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 19:00 WIB
Patung Harimau Putih Kediri: Ketika Karya Aneh Justru Menciptakan Destinasi
Patung Macan Putih Balongjeruk: Lebih dari Sekadar Bentuk

Patung Macan Putih di Balongjeruk: Karya yang Hidup Melampaui Rupanya

Polemik seputar Patung Harimau Putih di Desa Balongjeruk, Kediri, sebenarnya jauh lebih dalam dari sekadar perdebatan soal mirip atau tidak. Ini bukan cuma urusan selera. Yang terjadi di sini adalah sebuah percakapan menarik mungkin yang paling jujur belakangan ini tentang seni di ruang publik, uang rakyat, dan bagaimana kita semua menanggapi sebuah karya yang muncul dari pinggiran.

Pertama-tama, mari kita bicara soal transparansi. Poin ini penting. Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, dengan jelas menyatakan bahwa patung seharga Rp 3,5 juta itu dibiayai dari kantong pribadinya sendiri.

"Ini dari dana pribadi saya, bukan APBDes," tegasnya.

Pernyataan itu, sederhana saja, langsung mengubah arah kritik. Soal tata kelola keuangan desa jadi tak relevan. Perdebatan pun bergeser sepenuhnya ke wilayah yang lebih subjektif: estetika. Ranah di mana selera dan interpretasi bebas berseliweran.

Dan di situlah keajaiban terjadi. Justru karena dianggap "aneh" atau "tidak mirip", patung itu malah viral. Dari sekadar ikon kampung, ia menjelma jadi destinasi. Orang-orang rela menempuh perjalanan jauh cuma untuk berfoto di depannya, tertawa, lalu membagikannya lagi. Ironis? Tentu. Tapi itulah kenyataannya.

Ini mengingatkan kita pada teori Roland Barthes, "The Death of the Author". Begitu sebuah karya dilepas ke publik, niat awal si pembuat bisa jadi tak lagi penting. Maknanya hidup dan berkembang di tangan dan ponsel orang banyak. Patung yang dimaksudkan sebagai penjaga mitologis desa, oleh netizen dibaca ulang jadi kuda nil, zebra, atau apalah. Lalu nilai barunya tercipta: sebagai pemantik tawa dan objek wisata.

Lalu, apakah ini memalukan? Sama sekali tidak. Coba lihat dunia seni kontemporer global. Karya Maurizio Cattelan yang cuma menempel pisang dengan lakban, dijual ratusan ribu dolar. Lukisan Mark Rothko, bagi sebagian orang, cuma bidang warna. Seni seringkali bukan soal kemiripan sempurna, tapi tentang gagasan dan percakapan yang dihasilkannya.

Seperti dikatakan John Berger, cara kita melihat sangat dipengaruhi oleh apa yang kita tahu atau percayai. Apa yang kita "lihat" dari patung harimau putih ini pun begitu. Dipengaruhi ekspektasi kita tentang seni publik, pengetahuan kita tentang harimau, dan mungkin juga mood kita hari itu.

Pendapat dari dalam negeri juga patut disimak. Aminudin T.H. Siregar, seorang kurator, pernah bilang bahwa seni di ruang publik harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem budaya lokal. Proses dan partisipasi masyarakat seringkali lebih bernilai ketimbang kesempurnaan bentuk fisiknya.

Seniman Agus Suwage punya pandangan serupa.

"Seni itu tidak selalu harus indah menurut ukuran umum. Kadang ia justru berfungsi memantik pertanyaan, gelak tawa, atau perdebatan. Itu sah-sah saja," ujarnya dalam suatu wawancara.

Polemik ini mestinya jadi bahan refleksi bagi kita semua. Apakah kita terlalu cepat menghakimi ekspresi budaya lokal dengan kacamata kota dan standar akademis yang kaku? Desa Balongjeruk punya cerita mitologisnya sendiri. Patung ini adalah upaya mereka, dengan sumber daya seadanya, untuk menceritakannya.

Alih-alih mempermalukan, gelombang viral ini justru telah mendemokratisasi apresiasi seni. Itu partisipasi budaya dalam bentuknya yang paling nyata.

Namun begitu, ada catatan yang perlu diingat. Ke depan, meski dananya pribadi, penempatan karya di fasilitas publik akan lebih baik jika melibatkan konsultasi dengan yang paham medium patung luar ruang. Tujuannya agar karya bisa bertahan lebih lama, secara fisik dan nilai. Kabar baiknya, komitmen desa untuk merevisi patung menunjukkan sikap terbuka dan mau belajar.

Pada akhirnya, Patung Harimau Putih Kediri ini bukan aib. Ia adalah fenomena budaya modern yang justru membanggakan. Karya ini membuktikan bahwa seni bisa lahir dari niat tulus dan transparansi, lalu menjadi katalis percakapan yang hidup.

Seperti kata Joseph Beuys, setiap manusia adalah seniman. Seorang kepala desa dengan dana terbatas pun berhak mengekspresikan visinya. Dan publik berhak menertawakannya, mengkritiknya, atau malah menjadikannya tujuan wisata. Semua itu adalah bentuk apresiasi.

Yang justru memalukan, kalau kita sebagai penikmat jadi elitis, gampang menghina, dan lupa bahwa salah satu fungsi seni adalah menyatukan orang dalam sebuah percakapan meski percakapan itu dimulai dengan ledakan tawa.

Remy Sylado, sastrawan, pernah mengingatkan sesuatu yang relevan di sini.

"Seni itu hak semua orang. Jangan dijadiin alat buat mengukur siapa yang punya selera tinggi atau rendah. Kadang, yang dianggap ‘jelek’ justru paling jujur mewakili zamannya."

Patung Harimau Putih di Balongjeruk mungkin adalah perwujudan paling jujur dari semangat itu. Lahir dari niat baik, dikritik dengan bebas, lalu dirayakan justru karena ketidaksempurnaannya. Itulah seni yang benar-benar hidup.

[]

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar