Setelah membacanya, saya jadi mikir. Mungkin inilah alasannya mengapa segalanya terasa aman-aman saja. Pelaku perusakan hutan, yang sebenarnya akar masalahnya, justru bisa tidur nyenyak.
Terutama di Aceh, Sumatera. Bencana datang silih berganti.
Namun begitu, yang terjadi justru sebaliknya. Pelaku utama seolah dilindungi, sementara korban yang menyuarakan kekecewaannya malah dianggap bermasalah. Ironis, bukan?
Jadi, kalau ditanya mana yang lebih berbahaya? Tampaknya, kita sudah punya gambaran yang cukup jelas. Tindakan yang menghancurkan lingkungan hidup punya konsekuensi jangka panjang dan nyata. Sementara ekspresi protes, bagaimanapun, adalah buah dari kekecewaan yang menumpuk.
Artikel Terkait
Antonelli Rebut Pole Position, Grid Suzuka 2026 Diwarnai Kejutan
Justin Hubner: Indonesia Terasa Seperti Rumah Setiap Kali Dipanggil Timnas
Hendropriyono Kenang Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan Sipil dengan Jiwa Militan
Bazar Rakyat Instruksi Presiden Prabowo Serbu Monas, Dihadiri Ratusan Ribu Warga