Akar Masalah di Hutan, Simbol Kekecewaan di Jalanan

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 12:40 WIB
Akar Masalah di Hutan, Simbol Kekecewaan di Jalanan

Membaca jawaban dari kecerdasan buatan itu, kadang bikin kita merasa kecil. Jujur saja, dia memang seringkali terlihat lebih pinter. Tapi ya sudahlah.

Ada sebuah pertanyaan yang menarik perhatian saya baru-baru ini. Intinya begini: mana yang lebih berbahaya, orang-orang yang menebang hutan seenaknya, atau massa yang mengibarkan bendera Aceh di jalanan?

Permintaan si penanya spesifik: buatkan jawaban singkat, yang pas untuk di-screenshot.

Lalu, beginilah jawaban yang keluar dari mesin.

Penebang hutan merusak alam dan memicu bencana nyata.
Pengibaran bendera hanyalah simbol kekecewaan.


Yang satu penyebab,
yang lain reaksi.

Setelah membacanya, saya jadi mikir. Mungkin inilah alasannya mengapa segalanya terasa aman-aman saja. Pelaku perusakan hutan, yang sebenarnya akar masalahnya, justru bisa tidur nyenyak.

Terutama di Aceh, Sumatera. Bencana datang silih berganti.

Namun begitu, yang terjadi justru sebaliknya. Pelaku utama seolah dilindungi, sementara korban yang menyuarakan kekecewaannya malah dianggap bermasalah. Ironis, bukan?


Jadi, kalau ditanya mana yang lebih berbahaya? Tampaknya, kita sudah punya gambaran yang cukup jelas. Tindakan yang menghancurkan lingkungan hidup punya konsekuensi jangka panjang dan nyata. Sementara ekspresi protes, bagaimanapun, adalah buah dari kekecewaan yang menumpuk.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar