Gunung Semeru, yang berdiri di perbatasan Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan kegelisahannya. Kali ini, erupsi terjadi pada Jumat (26/12), dengan aktivitas signifikan tercatat antara siang hingga petang, pukul 12.00 sampai 18.00 WIB.
Sigit Rian Alfian, petugas di Pos Pengamatan Gunung Semeru, memberikan rincian teknis yang cukup mencengangkan. Data yang ia sampaikan pada Jumat itu menggambarkan sebuah gunung yang sedang tak tenang.
“Tercatat 26 kali gempa letusan atau erupsi. Amplitudonya antara 11 sampai 22 milimeter, dengan durasi yang bervariasi, 63 hingga 108 detik. Selain itu, ada 2 gempa guguran, 9 gempa hembusan, dan 1 kali gempa tektonik jauh,” jelas Sigit.
Namun begitu, ada hal yang justru membuat situasi ini makin mencemaskan. Meski terekam jelas oleh seismograf, erupsi itu sendiri nyaris tak terlihat secara visual. Awan panas dan material vulkanik seolah tersembunyi di balik kabut atau kondisi cuaca.
“Kami mendeteksi gempa letusan, tapi tinggi kolom abu dan warnanya tidak bisa kami amati. Begitu juga dengan guguran. Arah dan jangkauannya tak terlihat,” ucapnya melanjutkan.
Karena ketidakpastian visual inilah, imbauan untuk warga pun dikeluarkan dengan penuh kehati-hatian. Bahayanya nyata, meski tak sepenuhnya terpantau mata.
Peringatan utama ditujukan bagi warga di sektor tenggara. Aktivitas di sepanjang aliran Besuk Kobokan, Lumajang, dalam radius 13 kilometer dari puncak, harus dihentikan sama sekali. Wilayah itu dinilai paling berisiko.
“Bagi yang berada di luar jarak 13 km itu, tetap waspada. Jangan beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan. Potensi perluasan awan panas dan aliran lahar bisa menjangkau hingga 17 km,” tegas Sigit.
Tak cuma itu. Radius bahaya juga diperluas. Seluruh area dalam 5 kilometer dari kawah puncak Semeru harus dikosongkan. Ancaman di sana bukan main-main: lontaran batu pijar bisa terjadi kapan saja.
Di sisi lain, masyarakat diminta terus memantau perkembangan. Ancaman sekunder seperti awan panas, guguran lava, dan aliran lahar dingin mengintai di sepanjang anak sungai. Terutama di aliran Besuk Kobokan, Bang, Kembar, dan Sat. Bahkan sungai-sungai kecil yang merupakan anak dari Besuk Kobokan pun berpotensi dilanda lahar.
Intinya, Semeru sedang aktif. Dan ketika gunung berapi bicara, yang harus kita lakukan hanya satu: mendengarkan peringatannya dan menjauh.
Artikel Terkait
Bentrokan Sawit di Rokan Hulu Tewaskan Satu Orang, Lima Ditahan Dua Buron
Studi Buktikan AI Tingkatkan Akurasi Diagnosis Dokter di Rwanda dan Pakistan
Harga Cabai Rawit di Maros Tembus Rp55 Ribu per Kg Jelang Ramadan
SIM Keliling Polrestabes Bandung Buka di Dua Lokasi Rabu Ini