Sejak awal 2025, isu reshuffle kabinet Prabowo Subianto tak pernah benar-benar hilang dari percakapan politik. Narasinya terus mengalir, dari fase konsolidasi kekuasaan hingga saat publik mulai mempertanyakan capaian nyata pemerintahan ini. Bagi banyak pengamat, perombakan kabinet bukan lagi sekadar soal ganti orang. Ini sudah jadi simbol, penanda arah kepemimpinan Prabowo di tahun pertamanya memimpin negeri.
Ekspektasi masyarakat memang tinggi. Janji-janji tentang pembangunan cepat, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi langsung jadi tolok ukur bagi kinerja tiap menteri. Tak heran, sepanjang tahun, beberapa kementerian mendapat sorotan tajam. Ada yang dinilai lamban, ada pula yang terlibat dinamika politik internal yang ruwet. Di sinilah wacana reshuffle selalu muncul ke permukaan. Pertanyaannya, akankah Prabowo lebih memilih evaluasi kinerja yang ketat, atau justru menjaga keseimbangan rapuh dalam koalisinya yang besar?
Menurut sejumlah saksi, tahun 2025 ini ibarat masa uji coba bagi para menteri. Mereka dituntut menerjemahkan visi presiden menjadi langkah nyata. Setiap pesan Prabowo soal disiplin dan kerja cepat sering dibaca sebagai sinyal evaluasi. Namun begitu, realitas politik koalisi selalu membayangi. Setiap kemungkinan pergantian menteri pasti beririsan dengan kalkulasi bagi-bagi kekuasaan.
Di sisi lain, isu reshuffle juga memperlihatkan relasi Prabowo dengan partai-partai pendukungnya. Dengan latar belakang militer dan gaya kepemimpinan yang tegas, dia dihadapkan pada teka-teki klasik: bagaimana menjaga otoritas kepresidenan tanpa mengganggu stabilitas politik yang ada. Setiap desas-desus pergantian menteri punya makna tersendiri. Seberapa berani presiden ini mengutamakan efektivitas kerja di atas kepentingan politik koalisinya?
Bagi rakyat biasa, reshuffle kabinet Prabowo di 2025 ini bukan cuma urusan siapa yang naik dan siapa yang turun. Lebih dari itu, ini soal pesan. Masyarakat berharap perombakan itu menegaskan bahwa kinerja adalah segalanya, bukan sekadar loyalitas politik buta. Harapan itu kian kuat karena semua sadar, tahun-tahun awal pemerintahan sangat menentukan jalan panjang lima tahun ke depan. Dalam hal ini, reshuffle bisa jadi alat koreksi, sebelum semuanya terlambat.
Pada intinya, wacana ini menggambarkan negosiasi tiada henti antara idealisme dan realitas, antara janji perubahan dan kebutuhan akan stabilitas. Apakah reshuffle nantinya efektif memperkuat kabinet, atau malah cermin dari kehati-hatian politik yang berlebihan? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, di 2025, topik ini telah menjadi penanda utama bagaimana Prabowo mengelola kekuasaan, tekanan ekspektasi, dan segala tantangan di awal masa jabatannya.
Peringatan Tegas dari Istana
Presiden Prabowo Subianto tak main-main dengan peringatannya. Dia mewanti-wanti seluruh anggota Kabinet Merah Putih untuk bekerja dengan benar dan jujur. Ancaman reshuffle digantungkan bagi yang bandel.
Pernyataan keras itu disampaikannya di hadapan sidang senat Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Bandung, pada suatu Sabtu di pertengahan Oktober 2025. Prabowo awalnya menyoroti kasus pengembalian anggaran Badan Gizi Nasional yang tak terserap. Dia memuji sikap pejabat yang menolak asal-asalan menjalankan proyek.
“Kalau ada pemimpin-pemimpin seperti Profesor Dadan ini, yang tidak mau akal-akalan. Beliau bisa saja, sudah ada anggarannya, beliau panggil timnya, panggil anak buahnya, ‘Ayo bikin, bikin proyek, bikin proyek.’ Tapi tidak. Beliau punya tanggung jawab pada bangsa, negara, dan rakyat Indonesia,” ucap Prabowo.
Meski memberi apresiasi pada yang bekerja sungguh-sungguh, pesannya jelas: bagi yang nakal, tindakan tegas menunggu.
“Satu kali peringatan masih nakal, masih nggak mau dengar, dua kali peringatan. Tiga kali, apa boleh buat, reshuffle. Harus diganti. Karena demi negara, bangsa, dan rakyat, tidak boleh ada rasa kasihan. Yang kasihan itu rakyat Indonesia,” tegasnya.
Bersiap Dibenci Koruptor
Prabowo juga menyatakan kesiapannya menghadapi segala tekanan dari pihak-pihak yang terganggu oleh upaya pemberantasan korupsi.
“Kalau saya dibenci oleh maling-maling, koruptor, manipulator, penipu-penipu yang serakah, nggak apa-apa, nggak ada urusan. Saya dikasih peringatan: ‘Pak, hati-hati loh Pak, mereka uangnya banyak, mereka bisa bayar demo.’ Nggak ada urusan. Yang penting rakyat Indonesia mendukung saya. Saya tidak ragu-ragu,” ujarnya dengan nada mantap.
“Saya akan hadapi. Kalau koruptor-koruptor, maling, saya hadapi bersama saudara-saudara. Saya yakin rakyat Indonesia di belakang saya. Saya percaya itu,” tambahnya.
Pesan itu berulang kali disampaikannya: seluruh jajaran harus bekerja untuk rakyat. Ancaman pencopotan bagi menteri yang lalai selalu mengemuka.
Catatan Tiga Kali Perombakan
Sepanjang 2025, Prabowo memang telah beberapa kali mengubah formasi kabinetnya. Reshuffle pertama terjadi lebih awal, pada 19 Februari. Saat itu, Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi, Soemantri Brodjonegoro, digantikan oleh Brian Yuliarto dari ITB. Latar belakangnya adalah gelombang protes internal di kementerian tersebut di bulan Januari.
Kemudian pada 8 September, giliran kursi menteri keuangan yang bergeser. Purbaya Yudhi Sadewa ditunjuk menggantikan menteri sebelumnya. Perombakan kedua ini juga mencatat pembentukan Kementerian Haji dan Umrah yang baru, dengan Mochamad Irfan Yusuf sebagai menterinya dan Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakil.
Namun urutan waktu agak menarik. Reshuffle ketiga justru terjadi lebih dulu, yaitu pada 19 Juli. Dalam perombakan besar ini, Prabowo melantik 11 pejabat. Pergeseran penting termasuk Djamari Chaniago yang menjadi Menkopolkam, dan Erick Thohir yang berpindah dari BUMN ke Kemenpora.
Ujian Memulihkan Kepercayaan
Menanggapi langkah-langkah itu, Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago melihat reshuffle sebagai langkah strategis Prabowo untuk memulihkan kepercayaan publik. Menurutnya, tantangan terberat adalah mengubah ketidakpercayaan (distrust) menjadi kepercayaan (trust).
“Pak Prabowo mau tidak mau harus memulihkan kepercayaan publik. Dan itu tidak mudah,” ujar Pangi di awal September.
Dia menilai keberanian presiden untuk mencopot menteri yang tak berpihak pada rakyat adalah kunci. “Jangankan membela rakyat, kebijakannya, statement-nya saja kadang kurang sekali, kering sekali bicara tentang rakyat,” katanya.
Bagi Pangi, konsep "the right man on the right place" tak cukup. Integritas harus jadi penilaian utama. “Kalau menteri itu tidak berintegritas, di situlah persoalannya. Saya melihat menteri-menteri yang dicopot itu ada indikasi Presiden Prabowo menilai dari KPI integritas,” paparnya.
Kecerdasan saja tidaklah cukup. Yang lebih penting, lanjutnya, adalah kemampuan bekerja dalam tim yang solid, didukung staf ahli dan riset yang mumpuni. Semua itu, harus terukur dengan KPI yang jelas. Itulah barometer sesungguhnya di tengah hiruk-pikuk wacana reshuffle yang tak kunjung padam.
Artikel Terkait
Bayern Munich Hajar Hoffenheim 5-1, Luis Díaz Cetak Hattrick
Moodys Tegaskan Peringkat Baa2 Indonesia, Pemerhatan Soroti Ketahanan Ekonomi
Anggota DPR Soroti Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza: Perlu Kajian Teknis dan Perhatikan Beban APBN
KUHP dan KUHAP Baru Perkuat Perlindungan Hukum bagi Korban Perempuan dan Anak