MURIANETWORK.COM – Negeri ini punya enam komoditas tambang andalan. Posisinya di peta global pun tak main-main: nikel nomor satu dunia, timah di peringkat kedua, lalu batubara di posisi tiga hingga lima. Emas ada di peringkat lima, bauksit keenam, dan tembaga mengisi posisi kesepuluh. Tapi, di balik deretan angka mentereng itu, ada cerita lain yang menggelisahkan. Kedaulatan negara atas kekayaan strategis ini, dalam sepuluh tahun belakangan, terus tergerus. Dan itu terjadi dengan sangat drastis.
Pengamat politik Muhammad Said Didu angkat bicara. Ia memperingatkan soal cadangan nikel saprolite Indonesia yang katanya cuma bertahan untuk 13 tahun ke depan. Yang lebih memprihatinkan, 94,4 persen dari sumber daya ini sudah berada dalam genggaman asing dan oligarki. Miris, bukan?
Nasib serupa tampaknya menimpa bauksit. Cadangannya mencapai 2,58 miliar ton, atau sekitar 9,8% dari cadangan dunia. Tapi, menurut Didu, 96,4 persennya sudah diserahkan ke perusahaan asing. China disebut-sebut sebagai pemain utamanya.
Artikel Terkait
Italia Kalahkan Irlandia Utara, Lolos ke Final Playoff Piala Dunia 2026
Harga Emas Antam Anjlok Rp40.000 per Gram, Sentuh Rp2,81 Juta
Prancis Tundukkan Brasil 2-1 Meski Bertahan dengan 10 Pemain
Iran Terbitkan Daftar Putih Negara yang Dijamin Aman Lewati Selat Hormuz