Kesabaran Joko Widodo tampaknya benar-benar habis. Mantan presiden yang biasanya kalem itu kini terlihat berbeda saat menanggapi gugatan soal keaslian ijazahnya, yang dilontarkan oleh Roy Suryo dan sejumlah pihak lainnya. Kalau dulu dia cenderung diam, sekarang Jokowi justru mengambil sikap yang jauh lebih tegas dan reaktif.
Dalam beberapa kesempatan bertemu wartawan, emosinya kerap terlihat. Rasanya, dia sudah lelah dengan isu yang dianggapnya sepele namun terus berlarut-larut ini.
Setidaknya, ada beberapa poin penting yang disampaikan Jokowi terkait kasus ini. Mari kita simak.
Dilaporkan, Meski Dinilai Masalah Ringan
Usai mendatangi Polda Metro Jaya untuk melapor akhir April lalu, Jokowi mengaku bahwa tuduhan ijazah palsu ini sebenarnya hal yang kecil. Tapi, dia memutuskan untuk membawanya ke ranah hukum.
"Iya, ini sebetulnya masalah ringan, urusan tuduhan ijazah palsu. Tetapi memang perlu dibawa ke ranah hukum agar semuanya jelas dan gamblang," katanya.
Dia mengira persoalan ini sudah selesai saat masih menjabat. Ternyata tidak. "Di bawah ke ranah hukum lebih baik sekali lagi biar menjadi jelas," tambahnya. Karena ini delik aduan, Jokowi merasa harus turun tangan sendiri untuk melapor.
Merasa Dihina dan Direndahkan
Di kediamannya di Solo, awal Mei, Jokowi terlihat kesal. Dia merasa namanya diinjak-injak. "Ini kan bukan objek penelitian," ujarnya dengan nada tinggi. "Sudah menghina saya sehina-hinanya. Sudah merendahkan saya serendah-rendahnya."
Dia pun memilih untuk menyerahkan segalanya pada proses hukum. "Nanti bisa dibuktikan lewat proses hukum. Kita lihat proses di pengadilan seperti apa. Nanti akan menjadi pembelajaran bagi kita semua," jelasnya.
Pintu Mediasi Ditutup Rapat
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Jokowi dengan tegas menutup kemungkinan berdamai atau bermediasi dengan para pelapor. Dia ingin kasus ini benar-benar disidangkan.
"Iya, untuk pembelajaran kita semuanya. Bahwa jangan sampai gampang menuduh orang, jangan sampai gampang menghina orang, memfitnah orang, mencemarkan nama baik seseorang," kata Jokowi.
Dia bahkan berjanji akan membawa semua ijazah aslinya dari SD sampai universitas ke pengadilan. "Itu forum yang paling baik untuk menunjukkan ijazah asli saya," tegasnya. Kekhawatirannya, jika isu seperti ini dibiarkan, akan jadi preseden buruk dan menimpa banyak pejabat lain dengan tuduhan serampangan.
Selama ini, alasannya diam sederhana: dia yakin pada dokumen asli yang dimilikinya. "Dalam hukum acara, siapa yang menuduh itu yang harus membuktikan. Itu yang saya tunggu," ucapnya. Sambil tersenyum, dia bertanya, "Karena yang membuat ijazah saya sudah menyampaikan asli, masih tidak dipercaya, gimana?"
Kecurigaan Ada Operasi Politik
Jokowi mencium ada yang tidak beres. Menurutnya, mustahil isu ini bertahun-tahun tak kunjung padam kalau tidak ada agenda besar di baliknya. Ada operasi politik, begitu kira-kira.
"Ada keinginan pihak tertentu yang mau men-downgrade dan menurunkan reputasi yang saya miliki," ujarnya. Lalu dia menambahkan dengan senyuman khasnya, "Meskipun saya enggak merasa punya reputasi apa-apa."
Lantas, untuk apa reputasinya dirusak? Jokowi menduga kuat ada kepentingan politik. "Kalau hanya untuk main-main kan mesti ada kepentingan politiknya di situ," katanya. Dia yakin ada 'orang besar' yang menggerakkan semua ini, meski enggan menyebut nama. "Ya, saya kira gampang ditebak lah," jawabnya singkat.
Maaf? Itu Urusan Pribadi
Terakhir, soal kemungkinan memaafkan. Jokowi membedakan dengan sangat jelas antara urusan pribadi dan hukum. "Urusan maaf memaafkan itu urusan pribadi. Urusan hukum ya urusan hukum, prosesnya biar berjalan apa adanya," katanya di Solo, menjelang akhir tahun.
"Sekali lagi, urusan maaf memaafkan itu urusan pribadi. Kalau urusan hukum ya urusan hukum, kita hormati proses hukum yang ada," tegasnya.
Namun, kabarnya tidak semua dari 12 terlapor akan dimaafkan. Menurut Willem Frans Ansanay dari Barisan Relawan Jalan Perubahan, Jokowi menyebut ada tiga nama yang terlalu ekstrem dalam menuduh dan tak pernah mau menerima fakta keaslian ijazah. Tiga nama itu kemungkinan besar tidak akan diberi maaf.
"Tapi yang tiga nama kelihatannya terlalu ekstrem, nggak pernah mau menerima fakta ijazah Jokowi itu benar dan melakukan berbagai tindakan... ya itu Pak Jokowi akan teruskan," kata Willem.
Meski Willem tak menyebutkan, tiga nama yang paling vokal dalam kasus ini adalah Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauziah Tyassuma (Dokter Tifa).
Dari dua belas nama terlapor, Bareskrim Polri akhirnya menetapkan delapan orang sebagai tersangka. Mereka terbagi dalam dua klaster. Klaster pertama seperti Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis dijerat dengan pasal penghasutan. Sementara klaster kedua Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauziah dijerat dengan pasal UU ITE terkait manipulasi dokumen elektronik.
Kasus ini, bagi Jokowi, sudah lewat dari sekadar soal secarik kertas ijazah. Ini tentang harga diri, dan lebih dari itu, tentang pembelajaran bagi semua orang.
Artikel Terkait
Organisasi Ulama Internasional Dukung Iran dan Peringatkan Risiko Eskalasi Konflik
Pemerintah Rilis Jadwal Lengkap TKA 2026 untuk Siswa SD dan SMP
Manchester City Kalahkan Liverpool 2-1 Berkat Gol Telat Haaland
Bayern Munich Hajar Hoffenheim 5-1, Luis Díaz Cetak Hattrick