Dari Buta Aksara ke Rangking Tiga, Kisah Nazril di Hadapan Gus Ipul

- Rabu, 24 Desember 2025 | 19:00 WIB
Dari Buta Aksara ke Rangking Tiga, Kisah Nazril di Hadapan Gus Ipul

Suasana di SRMA 13 Bekasi siang itu cukup ramai. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, tengah memimpin acara Pra Launching Sekolah Rakyat dan Doa untuk Sumatera. Di tengah acara, Gus Ipul memilih untuk berdialog langsung. Ia memanggil beberapa siswa beserta orang tuanya ke panggung, meminta mereka bercerita pengalaman nyata tentang Sekolah Rakyat.

Perhatian Gus Ipul kemudian tertuju pada seorang anak laki-laki bernama Nazril, siswa tingkat SMP. Dari percakapan dengan sang ibu, Rina, terungkap sebuah kisah yang cukup menyentuh. Ternyata, sebelum masuk Sekolah Rakyat, Nazril sama sekali belum bisa membaca.

"Ibu, saya mau tanya. Bagaimana Nazril setelah 5 bulan di sini?" tanya Gus Ipul kepada Rina.

"Alhamdulillah ada kemajuan," jawab Rina singkat.

"Bagaimana kemajuannya yang dirasakan oleh ibu? Sebagai ibu kan paling tahu biasanya," Gus Ipul menyelidik lebih jauh.

"Sekarang sudah bisa membaca," ucap Rina, kali ini dengan senyum mengembang.

Mendengar itu, Gus Ipul langsung ingin membuktikannya. Ia menunjuk ke tulisan di layar video tron di panggung, meminta Nazril membacanya. Suara Nazril mungkin masih malu-malu, tapi jelas terdengar oleh seluruh hadirin.

"Launching sekolah rakyat dan doa untuk Sumatera," bacanya, lancar.

Spontan, tepuk tangan riuh menggema di ruangan. Mereka memberikan apresiasi untuk pencapaian anak itu. Namun, ceritanya belum berakhir. Gus Ipul lalu menyodorkan fakta lain yang bikin decak kagum.

"Kepala sekolahnya mana? Kepala sekolah. Benar dia ranking tiga? Tidak mengada-ada? Asli?" tanyanya setengah tak percaya, mencari konfirmasi dari kepala sekolah Nazril yang hadir di tempat.

Setelah mendapat anggukan pasti, Gus Ipul pun menjelaskan ke semua orang. "Jadi pada tengah semester, Nazril dengan kerja keras bisa menjadi ranking ketiga."

Prestasi itu tentu bukan datang tiba-tiba. Menurut pengakuan Rina, kondisi keluarga mereka sebenarnya sangat sederhana. Ia bekerja sebagai tukang cuci dan gosok pakaian, dengan penghasilan yang pas-pasan. Biaya sekolah anak nyaris tak terjangkau.

Nazril bahkan sempat di ujung tandang untuk berhenti sekolah. Menurut Rina, tanpa kehadiran Sekolah Rakyat, mustahil anaknya bisa terus belajar seperti sekarang. Di akhir kesaksiannya, rasa haru itu ia tuangkan dalam bentuk terima kasih.

"Kepada Bapak Presiden saya terima kasih atas adanya sekolah rakyat ini, sudah mengubah anak saya menjadi pintar," ucap Rina.

Momen itu, sederhana tapi sarat makna, seolah menjadi jawaban nyata dari tujuan program tersebut. Sebuah bukti bahwa perubahan, meski dimulai dari hal dasar seperti membaca, bisa membuka jalan yang lebih terang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar