Lima unit ekskavator masih terus menderu di malam hari, mengais sisa-sisa lumpur dan ribuan gelondongan kayu yang memenuhi halaman Pondok Pesantren Darul Muchlisin di Aceh Tamiang. Pekerjaan itu sudah berlangsung tanpa henti sejak malam hingga dini hari. Tiga pekan setelah banjir bandang dan longsor menerjang, pembersihan total masih menjadi prioritas utama.
Material kayu dalam jumlah yang luar biasa besar itu sebelumnya benar-benar mengepung fasilitas pesantren. Ukuran dan beratnya membuat mustahil untuk dibersihkan secara manual. Makanya, alat berat jadi andalan. Tujuannya jelas: agar area pesantren segera bersih dan aktivitas belajar para santri bisa kembali normal.
Di lapangan, upaya pemulihan ini benar-benar kerja kolektif. TNI, petugas dari Kementerian Kehutanan dan PU, BNPB, ditambah relawan gabungan dan warga setempat, semua bahu-membahu. Aceh Tamiang sendiri tercatat sebagai salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Bukan cuma ponpes, sejumlah fasilitas umum lain juga sempat dikepung material serupa.
Pemerintah sendiri, lewat berbagai instansi terkait, terus mendorong percepatan pemulihan, khususnya di sektor pendidikan. Harapannya, anak-anak bisa segera kembali ke kelas, baik di sekolah umum maupun di pondok pesantren. Ini bagian dari fokus pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Batas Usia 16 Tahun untuk Akses Platform Digital Berisiko
Lebaran Usai, 171 Ribu Kendaraan Banjiri Makassar di Puncak Arus Balik
Harga Emas Perhiasan Stabil di Tengah Gejolak Pasar Global
Spanyol Hancurkan Serbia 3-0 dalam Uji Coba, Oyarzabal Cetak Brace