Awal libur sekolah tiba. Anak-anak riang, bebas dari rutinitas. Tapi ada satu program yang justru tetap berjalan: Makan Bergizi Gratis. Muncul pertanyaan sederhana, tapi penting. Kenapa program ini nggak ikut libur juga?
Bayangkan saja. MBG tetap jalan saat sekolah sepi itu ibarat ngadain pesta di ruangan kosong. Suasananya janggal, dan siapa yang mau datang?
Lalu, gimana cara menyalurkannya? Opsi pertama, ya siswa disuruh ambil sendiri ke sekolah. Coba deh tanya, ada berapa anak yang rela potong liburan cuma buat jemput makan siang gratis? Hampir mustahil.
Opsi kedua, makanan dikirim ke rumah. Nah, ini malah bikin pusing. Siapa yang mau jadi kurirnya? Dinas terkait pasti akan angkat tangan. Kecuali ada anggaran transportasi tambahan yang jumlahnya nggak main-main.
Sementara kita sibuk memikirkan soal teknis penyaluran MBG ini, coba lihat kondisi di lapangan. Di Aceh, Sumatera Utara, dan sejumlah wilayah lain, banjir masih merendam segalanya. Warga di sana harus berjuang mengangkut beras dan sembako melalui jalan becek, lumpur, dan genangan.
Menurut sejumlah saksi, perjuangan mereka sungguh memilukan. Kontras banget dengan polemik program yang seharusnya bisa lebih fleksibel.
Jadi, coba kita renungkan sejenak. Andai saja dana besar untuk MBG selama libur sekolah itu dialihkan sementara. Mungkin untuk sewa helikopter logistik ke daerah terisolasi. Atau beli ribuan genset buat puskesmas darurat yang masih gelap. Bisa juga untuk membangun hunian sementara yang layak bagi korban yang kehilangan rumah.
Tapi, ya sudahlah. Itu cuma bayangan. Kenyataannya, program ini seperti punya nyawa sendiri. Terlalu ngotot untuk dihentikan, seolah-olah kegagalan penyaluran adalah sebuah aib besar. Ada kesan kuat ini adalah program pencitraan yang dipaksakan, meski harus menyedot anggaran negara dalam jumlah fantastis.
Pada akhirnya, MBG tetap jalan meski libur sekolah. Bukan karena kepedulian pada anak, tapi mungkin karena ada yang tak rela kehilangan 'proyek' yang sudah berjalan. Sedih, tapi itulah realita yang sering kita hadapi.
(Nur Fitriyah As’ad)
Artikel Terkait
Gerindra Syukur 18 Tahun, Dasco Tekankan Kaderisasi dan Kedekatan dengan Rakyat
Program Makan Bergizi Tetap Berjalan di Bulan Puasa dengan Mekanisme Disesuaikan
MK Gelar Sidang Uji Materi Pasal KUHP Baru yang Dikhawatirkan Kriminalisasi Kritik
Anggota DPR Kritik Target Konsumsi Susu Anak, Sebut Statistik Bohong