Kata Berisik Dewi Perssik untuk Korban Aceh Tuai Badai Kritik

- Selasa, 23 Desember 2025 | 08:50 WIB
Kata Berisik Dewi Perssik untuk Korban Aceh Tuai Badai Kritik
Dewi Perssik dan Polemik Komentar tentang Bencana

Komentar Dewi Perssik soal Bencana Aceh: Maksud Menengahi atau Justru Memantik Badai?

Niatnya mungkin baik, ingin meredakan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Penyanyi dangdut Dewi Perssik kembali jadi sorotan, kali ini karena komentarnya tentang penanganan bencana di Aceh yang dianggap banyak netizen tak pantas.

[Gambar: Dewi Perssik saat live TikTok]

Semuanya berawal dari sebuah sesi live TikTok yang tiba-tiba viral. Dalam video itu, Depe sapaan akrabnya terlihat sedang membicarakan soal banjir bandang yang melanda Aceh. Namun, yang bikin publik menyorot adalah caranya menyampaikan pesan. Alih-alih menenangkan, dia malah membandingkan.

Perbandingannya ditujukan pada dua lokasi bencana: Aceh dan Lumajang, Jawa Timur, tempat Gunung Semeru meletus. Menurut pengamatannya, Presiden Prabowo Subianto sudah tiga kali datang ke Aceh. Sementara untuk Lumajang? “Belum pernah sama sekali,” ujarnya.

Nah, dari situlah poin utamanya muncul. Karena sudah didatangi presiden berkali-kali, menurut Depe, korban di Aceh seharusnya tidak ‘berisik’. Kata ‘berisik’ inilah yang kemudian memicu gelombang kritik tajam di media sosial. Banyak yang menilai pernyataannya terasa menghina korban yang sedang berduka.

Lantas, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Dewi Perssik? Mari kita simak kutipan lengkapnya dari akun Instagram pribadinya, Selasa lalu.

"Masih mending kamu didatengin Aceh sama presiden tiga kali, kami Lumajang Jember belum didatengin, tapi gak berisik. Ya, yang (bencana) Gunung Semeru."

Dia melanjutkan dengan nada yang agak kesal.

"Ya, setidaknya kalau misalkan gak ngasih bantuan secara energinya buat korban bencana, setidaknya donasi. Kalau gak punya duit, jarinya dipakai yang baik-baik bukan malah memecah belah rakyat. Fitnah presiden, ya, kasihan."

Di sisi lain, Depe bersikeras bahwa maksudnya hanya menengahi. Dia merasa sedang mendorong semangat kebersamaan, bukan memicu perpecahan.

"Aku cuma menengahi di sini, bukan waktunya sekarang itu mencari siapa yang paling oke, siapa yang paling pintar... tapi bagaimana kita bersinergi. Kita itu bermasyarakat, bersatu, bukan saling berantem."

Dalam live yang sama, dia juga bercerita tentang pengalaman pribadi. Anaknya yang kini menjadi anggota TNI memberinya gambaran soal betapa sulitnya medan distribusi bantuan. Hal itu, katanya, membuatnya paham betul bahwa proses menyalurkan bantuan bukan perkara mudah.

"Apalagi anak aku di TNI, pagi siang sore malam anak aku melihat bapak-bapak TNI jalan kaki memberikan bantuan, karena medannya untuk memberikan bantuan juga kita melihat (sangat sulit)."

Namun begitu, dia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya pada para pengkritik. “Tapi Ya Allah, pada nirempati banget. Yang ngata-ngatain, makanya mungkin ada kepentingan, ada orang yang pengen jadi presiden kali,” tambahnya dengan nada sinis.

Puncak kontroversinya justru ada di akhir pernyataan. Dengan polos, Depe mengungkapkan harapan pribadinya yang cukup mengejutkan: agar Prabowo Subianto menjadi presiden seumur hidup.

"Tapi, kalau aku pribadi, bapak Presiden Prabowo harus jadi presiden seumur hidup."

Pernyataan terakhir itu, tentu saja, semakin mengeraskan pendapat publik. Bagi yang mendukung, Depe dianggap hanya menyuarakan fakta. Tapi bagi yang kecewa, komentarnya dinilai tak sensitif dan justru mengalihkan isu dari penderitaan korban ke dalam narasi politik yang sempit.

Jadi, benarkah dia menghina? Atau ini sekadar salah paham terhadap gaya bicaranya yang ceplas-ceplos? Tampaknya, di ruang publik yang riuh ini, setiap kata punya konsekuensinya sendiri. Dan Depe sekali lagi harus menelan pil pahitnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar