Kabar terbaru soal pencarian tiga jemaah haji Indonesia yang hilang di Arab Saudi datang dari Malang. Kementerian Agama ternyata sudah mengambil langkah lebih jauh dengan melakukan tes DNA pada keluarga Sukardi, salah satu jemaah yang hilang dari Kloter SUB-79 Surabaya itu. Ini jadi upaya terakhir untuk mengidentifikasi jika ditemukan jenazah yang tak dikenal di sana.
Sukardi sendiri hilang kontak sejak 29 Mei lalu, cuma dua hari setelah tiba di Makkah. Kamar 813 di Hotel Tala'ea Al-Khair jadi lokasi terakhir ia tercatat. Hingga detik ini, keberadaannya masih gelap.
As’adul Anam, yang menjabat Plt Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, mengonfirmasi langkah pengambilan sampel darah keluarga. Menurutnya, proses ini dilakukan kemarin oleh tim gabungan dari pusat dan dokter Mabes Polri.
“Sampel DNA itu nantinya akan dikirim ke sejumlah rumah sakit di Arab Saudi untuk dicocokkan,” jelas Anam pada Senin (22/12).
“Kalau ada rekaman DNA jenazah yang cocok, berarti itu keluarga mereka yang sudah meninggal. Sekarang kita tunggu saja hasil pencocokannya,” tambahnya.
Dari kejadian ini, Anam menyebut akan ada evaluasi menyeluruh. Pelayanan untuk jemaah haji dan umrah bakal ditingkatkan, terutama untuk mencegah terulangnya kasus serupa.
“Ke depannya, jemaah dengan kondisi demensia berat harus dicegah berangkat. Mereka kan tidak istito'ah. Fungsi petugas, khususnya pendamping jemaah (linjam), juga akan kami perkuat. Penempatan jemaah akan lebih diatur dengan sistem blok,” ucap Anam.
Di sisi lain, penggunaan gelang identitas bagi jemaah dinilai masih efektif dan akan terus dipakai.
“Gelang nama itu masih sangat membantu. Jemaah yang kesasar bisa dilacak dengan cepat berkat itu,” katanya.
Selain Sukardi, masih ada dua nama lain yang menghilang: Nurima Mentajim (80 tahun) asal Palembang dan Hasbullah Ikhsan (73 tahun) dari Banjarmasin. Keduanya dikabarkan punya riwayat demensia, kondisi yang jelas memperumit pencarian.
Berdasarkan pengumuman resmi dari KJRI Jeddah, begini kronologi hilangnya ketiganya.
Nurima Mentajim hilang sejak 28 Mei. Rekaman CCTV menunjukkan ia keluar sendirian dari hotel sekitar pukul 02.45 dini hari. Yang mengkhawatirkan, ia tak membawa identitas apa pun. Semua barang pribadinya tertinggal di kamar. Pengurus kloter menyebut Nurima mengalami demensia berat dan butuh pengawasan penuh.
Sukardi, seperti sudah disinggung, hilang sehari setelah Nurima, tepatnya 29 Mei. Ia diduga terpisah dari rombongan. Kondisi usia dan fisiknya membuat situasi ini makin mencemaskan.
Sedangkan Hasbullah Ikhsan adalah yang terbaru. Ia dilaporkan hilang pada 15 Juni pukul 03.00 dini hari, terakhir terlihat meninggalkan kamarnya di Hotel Abraaj Al Misk.
KJRI Jeddah telah menyebarkan nomor kontak darurat untuk masyarakat yang mungkin memiliki informasi:
Call Center Kantor Urusan Haji: 966 50 350 0017
Call Center KJRI Jeddah: 966 50 360 9667
Pencarian masih terus berlangsung. Harapannya, ketiga jemaah ini bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, persiapan terburuk juga sudah mulai dilakukan, seperti terlihat dari prosedur DNA tadi. Situasi yang sungguh memilukan bagi keluarga yang menunggu di tanah air.
Artikel Terkait
Tumpukan Sampah Membentuk Daratan Baru, Ancam Ekosistem dan Nelayan di Pesisir Cirebon
Dinamika Ruang Ganti Memanas, Otoritas Arbeloa di Real Madrid Dipertanyakan
Akuntan di Lhokseumawe Rekayasa Begal untuk Gelapkan Gaji Relawan Rp59,9 Juta
Tim Putri Bulu Tangkis Indonesia Hadapi Thailand di Perempat Final BATC 2026