Guru Besar UGM Sebut Rezim Zolim dan Abai Sains

- Senin, 22 Desember 2025 | 08:20 WIB
Guru Besar UGM Sebut Rezim Zolim dan Abai Sains

Suara kritis kembali muncul dari kalangan akademisi. Kali ini, Profesor Amalinda Savirani, Guru Besar Fisipol UGM, tak ragu menyampaikan pandangannya yang cukup keras terhadap rezim yang berkuasa.

Menurutnya, masalah utamanya bukan pada kurangnya data atau sains. "Ini memang rezim yang incompetent dan nggak pakai sains gitu ya," ujarnya. Ia merasa, seberapa pun banyaknya bukti atau jurnal ilmiah yang diajukan, semuanya akan percuma. "Mau dikasih arasan apapun, mau dikasih pengetahuan apapun, mau pake jurnal apapun ya nggak akan kena juga gitu. Karena bukan itu kayaknya."

Lalu apa inti persoalannya? Savirani melihatnya dari sudut yang lebih pragmatis. Tapi ekonomi politiknya aja yang mau jadi basis perebutan sumber daya gitu.

Dengan nada yang tegas, ia pun menyematkan satu kata yang kuat. "Ini rezim yang zolim menurut saya ya."

Kritiknya tak berhenti di situ. Ia menilai ada sikap merendahkan yang mendasar dari penguasa terhadap rakyatnya. "Warganya dianggap bego, warganya dianggap nggak tau apa-apa…"

Pernyataan sang profesor ini kemudian diangkat oleh Watchdoc Documentary melalui sebuah cuitan di Twitter. Mereka menyoroti kontras yang tajam antara anggapan rezim dan realitas di lapangan.

Warganya dianggap bodoh, padahal dia sendiri yang bodoh.
Warganya dianggap tidak tahu apa-apa, padahal ada banyak ahli yang sangat bisa untuk diajak berdiskusi.
Namun rezim tetap tidak mau.

Cuitan yang dilengkapi dengan video klip pernyataan Savirani itu beredar pada akhir Desember 2025. Ungkapan itu, singkat namun menusuk, seakan merangkum seluruh kegelisahan yang disampaikan sang akademisi.

"Prof. Dr. Amalinda Savirani, S.I.P., M.A. adalah Guru Besar di Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar