Di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, suasana rapat pleno Selasa (9/12) itu akhirnya memunculkan satu nama: KH Zulfa Mustofa. Ia terpilih sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU. Keputusan ini, tentu saja, langsung menciptakan gelombang di permukaan. Pasalnya, posisi Ketum PBNU masih ditempati dan ditegaskan kesahannya oleh Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya.
Lalu, bagaimana dengan isu dualisme kepemimpinan yang menganga? Apakah Zulfa merasa khawatir?
"Insyaallah enggak,"
begitu jawabnya singkat usai rapat berakhir. Suaranya terdengar tenang, meski pertanyaan yang dihadapi tidaklah sederhana.
Menurut Zulfa, langkah pertama yang akan diambil adalah membuka kanal komunikasi seluas-luasnya. Tidak terkecuali dengan pihak-pihak yang sebelumnya punya pandangan berbeda. "Pasti, saya melakukan komunikasi-komunikasi dengan para pihak," ucapnya mantap.
Saat ditanya lebih detail, ia mengaku proses dialog itu sebenarnya sudah berjalan. "Banyak sudah. Kami sudah komunikasi dengan para pihak yang kemarin-kemarin terjadi perbedaan pendapat, friksi-friksi," sambungnya. Tujuannya jelas: mencari sebuah formula yang bisa diterima bersama, sebuah jalan keluar yang menguntungkan semua pihak.
"Sangat besar peluangnya, insyaallah,"
tutur Zulfa tentang kemungkinan terciptanya win-win solution itu.
Artikel Terkait
Amnesty Kecam Langkah Indonesia Gabung Dewan Perdamaian AS
Menteri Meutya Bongkar Lubang Besar di Keamanan Digital: 50 Juta Korban Akibat Kartu SIM Abal-abal
Jaksa Beberkan Lonjakan Kekayaan Nadiem Rp 5 Triliun di Sidang Korupsi Chromebook
Remaja dengan Gangguan Jiwa Terjebak 7 Jam di Sumur Setengah Mati