Kuah Air Mata di Pengungsian Sawang: 12 Hari Usai Banjir, Bantuan Pemerintah Masih Tak Tampak

- Minggu, 07 Desember 2025 | 16:20 WIB
Kuah Air Mata di Pengungsian Sawang: 12 Hari Usai Banjir, Bantuan Pemerintah Masih Tak Tampak

Sudah dua belas hari berlalu sejak banjir melanda, namun bantuan dari pemerintah pusat masih belum terlihat di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Keluhan itu terus bergema dari para pengungsi yang bertahan di lokasi bencana.

Isbahanur, warga berusia 35 tahun, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya saat ditemui Minggu lalu. Suaranya lirih namun tegas.

“Pak Presiden, belum ada bantuan dari Pemerintah Indonesia hingga saat ini ke pedalaman ini.”

Menurutnya, kondisi di pedalaman masih sangat memprihatinkan. Listrik dan sinyal telepon mati total, memutus mereka dari dunia luar. Setiap pagi, warga berjuang membersihkan rumah mereka dari lumpur yang menggunung.

“Tingginya bisa satu sampai dua meter. Itu melelahkan sekali,” ujar Isbahanur, menggambarkan betapa beratnya upaya pemulihan itu. “Kami sembari memetik sisa sayur untuk dimasak di pengungsian.”

Hidup di pengungsian tentu serba terbatas. Stok beras utama memang masih ada, dan belakangan relawan mulai membawakan mi instan serta telur. Tapi untuk lauk? Hanya itu-itu saja.

“Kalau lauknya, kami sebut kuah ie mata (lauk air mata), karena sayur direbus semuanya,” ucapnya dengan senyum getir.

Dua desa, Babah Krueng dan Riseh, disebutnya sebagai yang paling terisolasi. Jalan menuju ke sana masih tertutup lumpur tebal, tak bisa dilalui kendaraan sama sekali. Akses benar-benar terputus.

Di sisi lain, kebutuhan mendesak warga sebenarnya sangat jelas: obat-obatan, selimut, kelambu, dan pakaian. Isbahanur sekali lagi menyampaikan permohonannya, kali ini lebih memelas.

“Pak Presiden warga kami belum merasakan bantuan dari Pemerintah Indonesia hingga hari ini. Tolong intruksikan seluruh kekuatan Presiden bantu kami.”

Banjir ini sendiri bukanlah peristiwa kecil. Sebelumnya diberitakan, 18 kabupaten dan kota di Aceh tergenang. Korban jiwa masih dicari, ribuan rumah hancur, fasilitas umum lumpuh. Di Aceh Utara dan Aceh Timur, air mulai naik sejak 22 November lalu, mengubah kehidupan warga dalam sekejap.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar