Negeri Para Jenderal: Tentang Tanah Republik yang Rakyat Terus Terjajah
Oleh: Firman Tendry Masengi Advokat/Alumni GMNI.
Sejarah negeri ini ditulis dengan darah rakyatnya sendiri. Tapi lihatlah sekarang. Para jenderal berdiri di mimbar-mimbar megah, bagai nabi baru. Seragam mereka bukan lagi lambang penjaga tanah air, melainkan kostum sakral yang menutupi kerakusan. Nama-nama mereka ada di mana-mana. Jalan raya, bandara, gedung pemerintah, sampai gang sempit tempat rakyat merintih semua diabadikan untuk para jenderal. Seolah seluruh bumi yang diinjak rakyat cuma altar pemujaan bagi penjarah berseragam.
Setiap kali kita menyebut alamat, tanpa sadar kita mengucapkan mantra pujian untuk para petinggi yang justru mengkhianati kita. Patriotisme dipaksakan lewat papan nama. Sungguh ironis. Tugu-tugu menjulang, prasasti berlapis emas, patung menatap langit yang retak. Semua itu bercerita tentang kejayaan yang tak pernah dirasakan rakyat. Cuma propaganda untuk menutupi dosa.
Nama-nama itu bukan sekadar penghormatan. Mereka adalah penjara ingatan. Setiap warga dipaksa berjalan di atas nama yang pernah menindas mereka. Bayi yang lahir pun, saat alamatnya dicatat, sudah masuk dalam lorong propaganda. Jalan-jalan itu bukan jalan kemerdekaan. Itu jalan kolonialisasi domestik, jejak sepatu lars yang terus menginjak-injak republik.
Menurut sejumlah saksi, para jenderal di sini tak pernah benar-benar berhenti berperang. Mereka cuma ganti medan tempur. Dulu musuhnya penjajah asing. Kini? Rakyatnya sendiri. Mereka merampas, menggusur, mengendalikan anggaran bagai harta rampasan. Semua dilakukan sambil berteriak "demi bangsa dan negara". Mereka mengibarkan bendera di atas rumah-rumah yang baru saja mereka hancurkan. Menampar nurani sambil berkata: inilah keamanan.
Dada mereka membusung, medali berderet seperti kalung emas penguasa tiran. Sementara itu, rakyat antre untuk bantuan sembako, menunggu sepotong roti dari negara yang digerogoti anak-anak seragam. Negeri ini bukan miskin; ia dijarahi. Bukan lemah; ia sengaja dilemahkan.
Di ruang istana yang dingin, mereka bicara nasionalisme sambil membuka peta tambang. Republik cuma "wilayah operasi". Masyarakat disebut "target". Sumber daya adalah "jarahan yang sah". Kala rakyat bertanya, jawabnya deru kendaraan taktis, bukan dialog. Saat rakyat menangis, air mata mereka diserap debu pembangunan yang tak pernah mereka minta.
Inilah negeri yang mendefinisikan ulang kata "pengabdian" menjadi "dominasi". Di sini, "stabilitas" artinya membungkam suara. "Keamanan" berarti mengamankan harta mereka, bukan hidup rakyat kecil.
Setiap jenderal punya narasi heroiknya sendiri. Operasi ini, pengorbanan itu. Tapi coba tanya, adakah cerita tentang mempertahankan martabat rakyat di medan penderitaan hari ini? Mereka bangga pada kemerdekaan puluhan tahun silam, tapi mereka sendiri jadi penjajah baru. Seolah hanya mereka yang bertarung, padahal rakyatlah yang mempertaruhkan nyawa tanpa catatan, tanpa medali, tanpa nama terpahat di tugu mana pun.
Dan ketika negeri tertatih oleh korupsi dan politik busuk, para jenderal tampil sebagai penyelamat. Padahal merekalah pencipta masalahnya. Mereka jual citra patriotisme seperti komoditas: kampanye, upacara, iklan yang membanjiri ruang publik. Wajah mereka lebih banyak muncul daripada tokoh agama atau ilmuwan. Ingin dikenang sebagai bapak bangsa, padahal cuma bayang-bayang gelap di lorong sejarah.
Pada akhirnya, negeri ini menderita bukan cuma karena dijarah. Tapi karena semua orang dipaksa melupakan bahwa mereka sedang dijarah.
Ketika papan nama jalan menggantikan kejujuran sejarah, ketika patung menggantikan moralitas, maka negeri ini bukan lagi rumah bagi rakyatnya. Ia jadi monumen besar bagi kekuasaan. Museum hidup tempat pengkhianatan dipamerkan. Rakyat cuma penonton yang terkurung di balik pagar "keamanan nasional".
Nanti, generasi baru mungkin akan bertanya: Apakah negeri ini benar-benar pernah merdeka? Atau cuma berganti penjajah dari asing menjadi seragam sendiri?
Itulah tragedinya. Mereka mengaku penjaga, tapi sejarah akan mencatat mereka sebagai penjarah paling brutal yang lahir dari rahim bangsanya sendiri.
Artikel Terkait
Chelsea Pecat Liam Rosenior Usai Hanya Tiga Bulan Melatih
Guru Besar Unhan Tegaskan Modernisasi Pertahanan Indonesia Sudah Jadi Kebutuhan Mutlak
PSM Makassar Bertekad Bangkit Hadapi Persik di Laga Krusial
Makassar Wajibkan Jukir Miliki KTP Lokal, Sinergi dengan Camat dan Lurah Diperkuat