Di tengah upaya evakuasi korban banjir dan longsor di Aceh serta Sumatera, pemerintah ternyata sudah mulai memikirkan langkah selanjutnya. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, mengungkapkan bahwa persiapan untuk hunian sementara dan hunian tetap bagi para korban sudah digarap.
“Ya, lagi dipersiapkan oleh Kepala BNPB untuk menyiapkan hunian sementara. Sudah ada programnya,” ujar Gus Ipul saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa lalu.
“Setelah itu, nanti akan disiapkan hunian tetap,” tambahnya.
Menurut Gus Ipul, ini semua masuk dalam tahap rekonstruksi dan rehabilitasi. Tapi ya, jangan salah paham dulu. Fokus utama saat ini memang masih pada penyelamatan dan evakuasi. “Tahap sekarang ini evakuasi, melakukan dukungan logistik yang dibutuhkan untuk pengungsi atau mereka yang terdampak,” jelasnya.
Namun begitu, rencana jangka menengah dan panjang juga sudah mulai digodok. “Setelah itu, mulai dipikirkan, sekarang juga rehabilitasi dan rekonstruksi,” sambungnya.
Soal teknis pembangunan huntara dan huntap, Gus Ipul menyebut itu masih dalam penyusunan oleh BNPB. Semuanya tentu akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan yang mungkin tiap daerah berbeda-beda.
“Sekarang Pak Kepala BNPB terus menghitung, melakukan pemetaan di lapangan, membuat perencanaan sehingga yang kehilangan rumah bisa mendapatkan tempat sementara,” terang Gus Ipul.
“Nanti akan didiskusikan juga dengan pemerintah daerah, dibangun hunian tetap.”
Lahan untuk pembangunan nantinya kemungkinan besar akan bersumber dari aset pemerintah. Ia memberi contoh seperti yang pernah dilakukan untuk pengungsi erupsi Gunung Semeru di Lumajang beberapa waktu lalu. “Biasanya sih nanti daerah yang menyediakan lahan, atau mungkin juga menggunakan lahan-lahan milik pemerintah (pusat), kemudian nanti akan dibangun secara bertahap,” tuturnya.
Rincian Bantuan dari BNPB
Di sisi lain, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memberikan penjelasan lebih rinci. Memang, prioritas saat ini masih pemenuhan kebutuhan paling mendesak: akses jalan, komunikasi, sampai bantuan pakaian. Tapi skema untuk perbaikan rumah sudah disiapkan.
“Ini langkahnya kan akses dulu, komunikasi dulu, bajunya dulu, baru nanti mikir rumahnya gimana,” kata Suharyanto dengan nada realistis.
Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto memberi instruksi jelas untuk memprioritaskan kepentingan rakyat. Nah, untuk bantuan perbaikan rumah, rupanya dibagi berdasarkan tingkat kerusakan.
“Nah, rumahnya itu ada beberapa skema. Yang rusak berat, rusak sedang, rusak ringan, itu diganti kerusakannya dalam bentuk uang,” ujarnya.
“Skemanya Rp 15 juta untuk rusak ringan, Rp 30 juta untuk rusak sedang.”
Lalu bagaimana dengan rumah yang hancur total? Untuk kasus seperti itu, pemerintah akan membangunkan rumah baru. Skema ini sengaja disiapkan agar warga punya kepastian, tidak bingung setelah masa darurat berakhir.
Masalah pengungsian juga jadi perhatian. Tinggal terlalu lama di tenda pengungsian jelas bukan solusi yang baik. Karena itu, BNPB menyediakan beberapa opsi. Ada Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp 600 ribu per bulan per keluarga bagi yang ingin mengontrak tempat tinggal sementara.
Selain itu, akan disediakan juga Hunian Sementara bagi warga yang benar-benar tidak punya tempat untuk menumpang atau mengontrak.
Intinya, setelah kondisi mulai normal dan warga sudah menempati hunian sementara, proses pendataan untuk relokasi atau pembangunan permanen akan segera dimulai. Semua ini dilakukan agar para korban bencana tidak merasa sendirian atau ditinggalkan oleh negara.
Artikel Terkait
Pemprov Sulsel Gerak Cepat Tangani Kasus Santri Diduga Dipaksa Pakai Vape Berbahaya di Pangkep
Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Masuk Agenda UNESCO, Wacana Film Layar Lebar Mengemuka
KAI Tutup 1.800 Perlintasan Liar yang Dinilai Picu Kecelakaan Kereta Api
Hujan Ringan hingga Sedang Diprediksi Guyur Sebagian Besar Wilayah Sulsel Sepanjang Hari