KPK punya wajah baru yang akan memegang kendali rumah tahanan. Togi Robson Sirait, namanya. Pelantikannya berlangsung Senin lalu, tepatnya tanggal 1 Desember, di Gedung Juang Merah Putih KPK, Jakarta.
Acara itu dipimpin langsung oleh Sekjen KPK, Cahya Harefa. Dalam sambutannya, Cahya tak main-main menyoroti betapa beratnya tanggung jawab yang diemban oleh posisi tersebut. Integritas, kata dia, adalah harga mati.
"Momentum ini menjadi penguatan lembaga," ujar Cahya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/12).
Ia berharap langkah ini bisa menambah semangat dalam memberantas korupsi.
Lebih lanjut, Cahya menekankan bahwa pengelolaan rutan harus transparan dan profesional. Bebas dari segala bentuk intervensi. Tapi bukan cuma soal keamanan dan kedisiplinan semata. Aspek kemanusiaan juga harus dijunjung tinggi.
"Setiap pelanggaran disiplin harus menjadi pelajaran penting," tegasnya.
Menurut Cahya, integritas bukanlah sesuatu yang bisa ditawar. Karena itulah, penguatan sistem pengawasan internal dianggapnya mutlak dilakukan.
Pernyataan ini tentu punya konteks. Sebelumnya, Rutan KPK sempat tercoreng oleh kasus pungutan liar yang dilakukan oknum petugas terhadap tahanan. Kejadian itu diharapkan jadi pembelajaran berharga agar tidak terulang di masa depan.
Di sisi lain, pelantikan ini juga mengukuhkan dua pejabat lain: seorang Analis Fungsional SDM dan seorang Penata Laksana Barang bernama Mahir.
"Kami harap para pejabat yang dilantik, mampu memperkuat sinergi serta menjadi teladan dalam menerapkan nilai 'BerAKHLAK'," tutur Cahya mengakhiri amanatnya.
"Hindari perilaku negatif yang merugikan keluarga, instansi, dan masyarakat."
Mengenal Togi Robson Sirait
Lelaki Batak kelahiran 25 Oktober 1992 ini adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Jalur karirnya dimulai di dunia swasta. Awal 2015, Togi bekerja sebagai staf legal di sebuah perusahaan. Beberapa bulan kemudian, tepatnya Oktober 2015, ia memutuskan untuk bergabung dengan beberapa firma hukum.
Perjalanan menuju KPK baru dimulai pada Mei 2017. Saat itu, Togi diterima sebagai Spesialis Muda 1 di Sekretariat Jenderal, yang kemudian membawanya pada posisi spesialis hukum muda. Pengalamannya bertambah ketika ditugaskan sebagai penyelidik tindak pidana korupsi. Hingga akhirnya, ia dipercaya menjabat sebagai Plt. Kepala Rutan sebelum dilantik secara definitif.
Soal kekayaan, laporan terbarunya tercatat di situs LHKPN per 4 Februari 2025. Saat melaporkan sebagai Penyelidik Tindak Pidana Korupsi Ahli Pertama, total hartanya mencapai Rp 316 juta. Rinciannya cukup menarik: ada sebidang tanah dan bangunan di Bogor senilai Rp 600 juta, tiga kendaraan (motor Honda BeAT, Honda Vario, dan mobil Daihatsu Xenia) senilai Rp 61 juta, plus harta bergerak lain dan kas.
Yang menarik, laporan itu juga mencantumkan utang yang cukup signifikan, yakni sekitar Rp 532 juta. Jadi, total kekayaan bersihnya berada di angka Rp 316.451.336.
Artikel Terkait
ART di Maros Curi Perhiasan dan Uang Majikan, Kabur ke Makassar
Indikasi Perjokian dan Pemalsuan Dokumen Warna Hari Pertama UTBK SNBT 2026 di Unesa
Hari Bumi 2026 Serukan Our Power, Our Planet, Ajak Aksi Nyata
BMKG Prediksi Cuaca Makassar Bervariasi: Cerah Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Siang hingga Sore