Fakta yang terungkap menunjukkan, MBG ternyata cuma lahan bisnis yang menggiurkan bagi TN1/P0lr1 dan sejumlah anggota Dewan. Ini bukan sekadar tuduhan, tapi realita yang terjadi.
Di sisi lain, kita disuguhi sebuah praktek yang nyaris sempurna dari apa yang bisa disebut "SERAKAHNOMIC". Pertunjukannya dipentaskan oleh Yasika Aulia, yang tak lain adalah anak dari Wakil Ketua DPRD Sulsel dari Fraksi GERINDRA. Sungguh sebuah ironi yang sulit untuk dipungkiri.
Yang lebih memprihatinkan, duit triliunan rupiah itu akhirnya jadi bancakan. Bukan untuk rakyat, melainkan untuk kalangan politikus, keluarganya, para kroninya, dan bahkan aparat yang seharusnya menjaga amanah.
Namun begitu, ada hal yang justru terasa lebih biadab. Program ini, atas nama apa, diklaim untuk "kepentingan rakyat"? Klaim yang terdengar sangat janggal di telinga.
Sebenarnya, rakyat sama sekali tidak membutuhkan MBG. Yang rakyat inginkan jauh lebih sederhana sekaligus fundamental: pekerjaan yang layak. Mereka butuh penghasilan yang cukup, sesuatu yang benar-benar bisa mensejahterakan keluarga.
Dengan penghasilan yang memadai, barulah mereka bisa menghidupi keluarganya, menyekolahkan anak-anak, dan memberi makan di meja mereka setiap hari. Itu kebutuhan nyata.
Jadi, mari kita katakan dengan jelas: MBG hanyalah omong kosong yang dibungkus dengan kemasan paling sempurna. Titik.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Hujan Lebat Berpotensi Banjir dan Longsor di Sulsel
Kementan Pantau Pasokan dan Harga Daging-Telur Jelang Lebaran, Kondisi Umum Stabil
Air Terjun Kali Jodoh di Pinrang: Pesona Alam dan Mitos Pencarian Jodoh yang Ramai Dikunjungi
Tiga Buronan KKB Yahukimo Dibawa ke Jayapura untuk Proses Hukum