Delegasi Rusia dan Turki Tiba di Quneitra: Tanda Pergeseran Strategi Suriah?
Sebuah delegasi yang terdiri dari perwakilan Rusia dan Turki dilaporkan telah tiba di Provinsi Quneitra, Suriah. Kedatangan mereka ini merupakan respons atas undangan resmi dari Pemerintah Suriah. Quneitra sendiri merupakan wilayah yang sering menjadi lokasi pelanggaran oleh pasukan Israel.
Laporan dari lapangan mengindikasikan bahwa pihak Rusia sedang melakukan serangkaian survei intensif. Tujuan utama dari aktivitas ini diduga kuat untuk mengidentifikasi dan menentukan lokasi-lokasi potensial yang strategis untuk mendirikan pos pemantauan militer baru di kawasan tersebut.
Meskipun kehadiran militer Rusia di Quneitra, jika benar terwujud, mungkin belum memiliki dampak langsung yang masif, hal ini menandai sebuah perubahan penting. Pemerintah Suriah menunjukkan bahwa mereka tidak lagi berada dalam posisi yang kosong atau tanpa dukungan dalam upaya mencegah dan menanggapi agresi dari pihak musuh.
Selama ini, rezim Suriah di bawah Jaulani (Ahmad Al-Sharaa) telah menjadikan Amerika Serikat sebagai pihak wasit tidak resmi dalam konfliknya melawan Israel. Strategi ini tampaknya diambil dengan pertimbangan pragmatis. Alih-alih menjadikan AS sebagai musuh sepenuhnya, Suriah memilih untuk memanfaatkannya sebagai penengah, meskipun fungsinya dinilai sangat terbatas, mungkin hanya sekitar 30% efektif.
Pemimpin Suriah memahami bahwa Amerika Serikat bukanlah wasit yang netral dalam konflik ini. Namun, di sisi lain, mereka percaya bahwa AS masih memiliki kapasitas untuk memperlambat laju agresi Israel, walaupun pada akhirnya Washington dinilai tidak akan pernah memiliki kemauan politik yang tulus untuk menghentikan agresi tersebut secara permanen.
Oleh karena itu, Damaskus kini tampak sedang menguji dan memainkan kartu alternatif lain. Dalam konteks ini, upaya membujuk Rusia untuk berperan sebagai pasukan perdamaian atau penjaga perdamaian menjadi salah satu opsi. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin juga berada dalam situasi yang kompleks. Di satu sisi, ia tidak ingin kehilangan pijakan dan pengaruh militernya di Suriah secara keseluruhan. Di sisi lain, Moskow juga tidak ingin urusan di Suriah sampai mengalihkan fokus dan sumber daya yang saat ini terkonsentrasi pada invasi yang sedang berlangsung di Ukraina.
Artikel Terkait
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Pick Up India