Polisi Tilang Maserati Bogor Tegas Tolak Suap Rp 100 Ribu, Ini Kata Aiptu Dulyani
Sebuah video yang menunjukkan sikap jujur seorang polisi lalu lintas di Bogor menjadi sorotan publik. Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang anggota Polantas dengan tegas menolak uang suap yang ditawarkan pengendara mobil mewah Maserati saat proses tilang berlangsung.
Kronologi Penilangan Mobil Mewah Maserati
Kejadian berawal ketika Aiptu Dulyani sedang melakukan patroli rutin di kawasan Bogor pada Kamis, 6 November 2025. Perhatiannya tertarik pada sebuah mobil Maserati berwarna biru yang menggunakan pelat nomor tidak sesuai standar, baik ukuran maupun pemasangannya.
Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, terungkap fakta bahwa surat-surat kendaraan bermasalah. "Ternyata pajak mati, STNK mati sejak bulan 4 tahun 2025," jelas Dulyani menegaskan kondisi surat kendaraan yang tidak lengkap tersebut.
Momen Penolakan Tegas Terhadap Uang Suap
Saat proses pemeriksaan berlangsung, terjadi momen mengejutkan dimana pengemudi Maserati secara terbuka menawarkan uang sebesar Rp 100 ribu. Tawaran ini langsung ditolak tegas oleh Aiptu Dulyani.
"Setelah itu saya berdiri, si bapak sudah buka dompet, 'ini', kata bapak itu. 'Terus apa ini, Pak?' kata saya," ungkap Dulyani menceritakan detik-detik penawaran suap tersebut. Dengan tegas ia mengembalikan uang yang ditawarkan dan melanjutkan proses tilang sesuai prosedur.
Komitmen Integritas Selama 22 Tahun Pengabdian
Dulyani yang telah mengabdi sebagai anggota Polantas selama 22 tahun menyatakan komitmennya untuk selalu menegakkan aturan dengan jujur. Ia menegaskan bahwa sejak awal tidak ada niat untuk meminta atau menerima uang dari pengendara.
"Memang nggak ada niat. Kalau ada niat saya matikan kamera, nggak ada saya posting," tegasnya. Menurut pengakuannya, ini bukan pertama kalinya ia menghadapi situasi serupa. Sebelumnya, ia juga pernah viral karena menolak suap saat menilang truk pengangkut batu yang overload.
Pandangan Tentang Praktek Suap di Jalan
Dulyani memberikan pandangan mendalam tentang praktek suap yang sering terjadi di jalan. Menurutnya, masalah suap tilang bukan hanya kesalahan dari pihak polisi saja, tetapi juga berasal dari pelanggar lalu lintas yang menawarkan uang.
"Yang saya lakukan untuk membongkar pungli di jalan bukan polisi yang minta, ada penawaran dari si pelanggar. Itu yang mau saya bongkar. Pemberi dan penerima suap sama-sama salah," tandasnya dengan tegas.
Kisah integritas Aiptu Dulyani ini menjadi contoh nyata tentang profesionalisme dan kejujuran dalam penegakan hukum lalu lintas. Peristiwa ini mengingatkan pentingnya kesadaran bersama untuk mematuhi peraturan dan menghindari praktek suap yang merugikan semua pihak.
Artikel Terkait
Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Raih Impian Haji dari Tabungan Receh Harian
Mantan Satpam Bobol Rumah Majikan Usai Dipecat, Rugikan Rp40 Juta
Tiket Ludes H-3, Antusiasme Suporter PSM Makassar Meledak Jelang Laga Kandang
Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Tangis di Hadapan DPRD Jatim