“Dari pantauan kami, anak-anak sudah mulai rindu dengan lingkungan sekolah. Namun, untuk hasil asesmen yang detail dan resmi masih dalam proses pendalaman,” tambahnya.
Hasil dari proses pemulihan psikologis ini akan menjadi pertimbangan utama bagi sekolah dalam menentukan model pembelajaran yang akan diterapkan ke depannya. Hal ini mengingat beberapa siswa masih mengalami rasa trauma dan ketakutan setelah kejadian ledakan.
Di sisi lain, kepolisian juga terus melakukan penyelidikan. Data terbaru menyebutkan bahwa sebanyak 36 saksi anak telah diperiksa untuk mendukung proses hukum. Pelaku yang masih di bawah umur (ABH) saat ini telah sadar, namun belum dapat dimintai keterangan lengkap karena kondisinya yang masih dalam masa pemulihan medis.
Hingga hari Rabu, tercatat 20 siswa masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Satu siswa dengan inisial LH bahkan harus menjalani operasi bedah plastik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) akibat luka serius yang dideritanya.
Artikel Terkait
Kejari Barru Resmikan Mess Pegawai 16 Kamar, Dukung Program Zero Indekos
Barcelona Tumbang 0-2 dari Atletico Madrid di Leg Pertama Perempat Final
Imigrasi Ngurah Rai Deportasi Pimpinan Sindikat Pencucian Uang yang Masuk Daftar Interpol
Polisi Ungkap Motif Judi Online di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Ibu Kandung di Lahat