“Dari pantauan kami, anak-anak sudah mulai rindu dengan lingkungan sekolah. Namun, untuk hasil asesmen yang detail dan resmi masih dalam proses pendalaman,” tambahnya.
Hasil dari proses pemulihan psikologis ini akan menjadi pertimbangan utama bagi sekolah dalam menentukan model pembelajaran yang akan diterapkan ke depannya. Hal ini mengingat beberapa siswa masih mengalami rasa trauma dan ketakutan setelah kejadian ledakan.
Di sisi lain, kepolisian juga terus melakukan penyelidikan. Data terbaru menyebutkan bahwa sebanyak 36 saksi anak telah diperiksa untuk mendukung proses hukum. Pelaku yang masih di bawah umur (ABH) saat ini telah sadar, namun belum dapat dimintai keterangan lengkap karena kondisinya yang masih dalam masa pemulihan medis.
Hingga hari Rabu, tercatat 20 siswa masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Satu siswa dengan inisial LH bahkan harus menjalani operasi bedah plastik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) akibat luka serius yang dideritanya.
Artikel Terkait
Sunyi yang Berbicara: Ketika Ulama Minang Menjinakkan Euforia Tahun Baru
Puncak Macet Parah, Polisi Terapkan Sistem Satu Arah
600 Hunian Darurat Tuntas di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Pacu Pembangunan
Pemilik Warung Steak Kalibata Dipanggil Polda, Kerugian Hampir Rp 100 Juta