Bahlil Lahadalia: Filosofi Wayang & Kaitannya dengan Partai Golkar

- Jumat, 14 November 2025 | 23:24 WIB
Bahlil Lahadalia: Filosofi Wayang & Kaitannya dengan Partai Golkar
Filosofi Wayang dan Kaitannya dengan Partai Golkar Menurut Bahlil Lahadalia

Bahlil Lahadalia Ungkap Filosofi Wayang yang Selaras dengan Partai Golkar

Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan pandangannya tentang filosofi wayang yang dalam. Ia menyatakan bahwa wayang bukan sekadar pertunjukan, tetapi merupakan warisan seni dan budaya Nusantara yang kaya nilai.

Bahlil menegaskan bahwa wayang memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan karakter Partai Golkar. Dalam sebuah acara pergelaran wayang untuk memperingati HUT ke-61 Partai Golkar di Jakarta, ia mengungkapkan kekagumannya.

"Saya baru memahami bahwa wayang ini tidak hanya mencakup seni tari, tetapi juga mencakup seni suara, seni pahat, dan seni penyampaian. Nilai-nilai ini sangat cocok dengan identitas Partai Golkar," ujar Bahlil Lahadalia.

Wayang Sebagai Media Komunikasi Politik Era Orde Baru

Bahlil juga menyoroti peran strategis wayang dalam sejarah politik Indonesia, khususnya pada masa kejayaan Golkar di era Orde Baru. Menurutnya, wayang pernah berfungsi sebagai media komunikasi politik yang efektif.

"Pada masa lalu, wayang dijadikan instrumen komunikasi antara pemerintah, partai politik, dan masyarakat untuk mensosialisasikan berbagai program, seperti program Keluarga Berencana," jelasnya.

Mengembalikan Tradisi Wayang di Partai Golkar

Pergelaran wayang dalam HUT Partai Golkar disebut Bahlil sebagai upaya untuk menghidupkan kembali tradisi yang pernah dibangun oleh generasi pendahulu partai.

"Kita berusaha mengembalikan dan meneruskan tradisi positif yang telah dilakukan para senior. Tradisi yang baik ini penting untuk kita pelihara bersama," imbuh Bahlil Lahadalia.

Wayang Sebagai Benteng Kearifan Lokal

Di akhir pernyataannya, Bahlil berharap kearifan lokal yang terkandung dalam wayang dapat menjadi pengingat bagi bangsa untuk tidak mudah terpengaruh budaya asing.

"Melalui wayang, kita belajar pada kearifan leluhur. Hal ini agar kita tidak terlalu terpengaruh pola budaya luar yang belum tentu sesuai dengan peradaban negara kita," pungkas Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar