Suasana di Teheran tampaknya sedang memanas. Brigadir Jenderal Morteza Ghorbani, seorang penasihat senior di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), baru-baru ini menyampaikan pernyataan keras yang menggambarkan situasi itu. Ia menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran kini berada dalam status siaga tertinggi. Siap menanggapi segala bentuk agresi, terutama dari Israel dan Amerika Serikat.
“Mereka siap. Jika serangan apapun terjadi, mereka akan meratakannya (Israel) dengan tanah,” tegas Ghorbani, seperti dikutip oleh kantor berita Mehr, Selasa lalu.
Dia menyebut ada sekitar 400 unit dari IRGC dan Angkatan Darat yang sudah dalam kondisi waspada tinggi. Menurutnya, semua elemen keamanan mulai dari Angkatan Darat, IRGC, hingga polisi sudah siap tempur dengan “jari di pelatuk”. Kesiapan ini, klaimnya, adalah warisan dari almarhum Jenderal Qassem Soleimani.
Di sisi lain, bukan hanya Ghorbani yang bersuara. Sekretariat Dewan Pertahanan Tertinggi Iran juga mengeluarkan peringatan serupa di hari yang sama. Mereka menyebut aksi tak bersahabat dari luar akan dibalas dengan respons yang tegas dan proporsional. Intinya, keamanan dan kedaulatan Iran adalah garis merah yang tak boleh dilanggar. Dan sekali mereka memutuskan untuk membalas, tidak akan ada lagi batasan.
Namun begitu, gelombang ancaman ini diimbangi dengan gelagat lain dari pihak Israel. Ada laporan menarik dari media Israel yang dirilis Anadolu. Disebutkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru meminta bantuan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Netanyahu konon meminta Putin untuk menyampaikan pesan ke Iran bahwa Israel tidak punya niat menyerang.
Lembaga penyiaran KAN, mengutip sumber diplomatik yang enggan disebut namanya, melaporkan bahwa pesan “jaminan” ini sudah dikirim ke Teheran. Bahkan, ini bukan permintaan pertama. Katanya, Netanyahu sudah pernah meminta hal serupa kepada Putin pada Oktober tahun lalu.
Lucunya, pidato Netanyahu di hadapan Knesset justru bernada berbeda. Dia mengaku mengirim pesan ancaman ke Iran: serang Israel, dan Anda akan menghadapi konsekuensi yang sangat berat. Jadi, mana yang benar? Diplomasi diam-diam atau ancaman terbuka?
Nah, laporan KAN juga menyoroti kekhawatiran di internal pemerintah Israel. Mereka takut Iran salah hitung. Khawatir Teheran melancarkan serangan dulu hanya karena merasa akan diserang Israel. Kekhawatiran ini membuat para petinggi politik dan keamanan Israel menggelar serangkaian rapat intensif membahas Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Jadi, situasinya seperti ini: di satu sisi, Iran bersiaga penuh dan mengancam akan membumi hanguskan Israel. Di sisi lain, Israel sibuk menyampaikan pesan “tenang” lewat perantara, sambil tetap menyimpan senjata di balik punggung. Sebuah ketegangan yang rumit, dimana salah satu langkah kecil bisa memicu konsekuensi besar.
Artikel Terkait
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung
Iran Tegaskan Hanya Diplomasi Solusi untuk Isu Nuklir, Peringatkan Konsekuensi Militer
Obama Tegaskan Tak Ada Bukti Kunjungan Alien ke Bumi Saat Ia Presiden
Lima Negara NATO Tuduh Rusia Racun Navalny dengan Epibatidine