Raffi Ahmad dan Politik Pencitraan: Ketika Hiburan Menenggelamkan Kritik
Isu yang mengemuka bukan lagi tentang pencucian uang, melainkan pencucian persepsi publik. Dalam dinamika kekuasaan kontemporer, negara dan pemodal besar dinilai telah menggeser strategi dari pentungan ke senyuman, dengan memanfaatkan sosok selebritas untuk melunakkan kecurigaan masyarakat.
“Raffi Ahmad itu mungkin gak pernah cuci uang, tapi yang paling jelas dia nyuci perasaan lo biar gak curiga sama adegan gelap negara,” demikian sebuah analisis yang beredar, menohok jantung persoalan. Masalahnya, menurut narasi tersebut, telah bergeser dari audit keuangan ke ranah perasaan publik.
Di era ini, negara dinilai tak lagi bergantung pada pendekatan represif. Kekuasaan justru bekerja dengan lebih halus: melalui senyum, selebritas, dan figur yang mampu memunculkan keraguan dalam benak publik. “Ah, masa sih?” atau “Kayaknya baik deh orangnya…” menjadi respons umum yang justru menguntungkan narasi yang dibangun.
Dalam konteks ini, posisi Raffi Ahmad disebut-sebut “terlalu sempurna”. Sebagai selebritas yang akrab dan disukai, kehadirannya dianggap mampu melembutkan pandangan keras publik. “Coba jujur. Lo marah sama pejabat, iya. Lo kesel sama pengusaha tambang, iya. Tapi begitu ada Raffi di frame, otak lo langsung melembek dikit,” tulis analisis tersebut.
Fenomena ini kemudian dikaitkan dengan kemitraannya dengan Haji Isam, pengusaha besar di sektor tambang dan alat berat. Nama Isam sendiri, jika berdiri sendiri, kerap dikaitkan dengan citra keras, konflik, dan masalah perizinan. Di sinilah peran selebritas dinilai krusial.
Artikel Terkait
Istri Fiersa Besari Terlindas Mobil di Stasiun Gambir, Pengemudi Tawar Rp200 Ribu untuk Damai
Bernadya dan JKT48 Geram, AI Grok Disalahgunakan untuk Konten Porno
John Herdman dan Misi Mustahil Garuda ke Piala Dunia
Violinis Brian King Joseph Gugat Will Smith, Klaim Tur Musik Hanya Perangkap Pelecehan